Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah dan Bunga Tinggi Tekan Daya Saing Galangan Kapal

Pelemahan rupiah dan suku bunga perbankan tinggi memperparah tekanan biaya produksi di industri galangan kapal nasional, mengancam daya saing dalam negeri.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 15.32 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Rupiah Melemah dan Bunga Tinggi Tekan Daya Saing Galangan Kapal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Industri galangan kapal di Tanah Air kini menghadapi tantangan serius akibat tekanan biaya yang berasal dari dua faktor utama: kenaikan suku bunga kredit dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini mengguncang stabilitas finansial proyek pembangunan kapal, yang membutuhkan modal besar sejak tahap awal hingga penyelesaian. Banyak komponen kritis seperti mesin utama, mesin bantu, serta material seperti pelat baja dan cat masih bergantung pada impor, sehingga rentan terhadap fluktuasi kurs valuta asing.

Ketua Umum DPP IPERINDO, Anita Puji Utami, menyatakan bahwa akses pembiayaan tidak menjadi kendala utama, melainkan pola penentuan suku bunga yang belum mempertimbangkan karakteristik industri galangan kapal. Sistem pembiayaan yang masih mengacu pada standar umum, tanpa penyesuaian terhadap siklus panjang produksi dan pengembalian investasi, membuat biaya modal menjadi beban berat. Ia menekankan bahwa perlu ada kebijakan khusus yang mengakomodasi durasi proyek yang berlangsung bertahun-tahun.

Pengaruh pelemahan rupiah terhadap harga bahan baku impor sangat signifikan. Setiap kenaikan nilai tukar dolar langsung berdampak pada kenaikan harga komponen penting seperti main engine, spare part, dan material konsumsi. Dalam beberapa bulan terakhir, kenaikan biaya akibat perubahan kurs telah mencapai 15%, membuat harga kapal dalam negeri menjadi kurang kompetitif dibandingkan galangan di negara lain yang memiliki kurs stabil dan akses pembiayaan lebih fleksibel.

Situasi ini berdampak langsung pada prospek industri, terutama dalam hal mendapatkan pesanan baru dari perusahaan pelayaran atau instansi pemerintah. Ketika biaya produksi melambung, pilihan untuk membangun kapal di luar negeri menjadi lebih menarik, terutama bagi pengguna yang mempertimbangkan efisiensi anggaran. Ketergantungan pada komponen impor yang masih belum tersedia secara lokal menjadi penghambat utama dalam menciptakan ekosistem produksi kapal yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Anita menilai bahwa jika suku bunga bisa ditekan hingga level 4% dan kurs valuta asing stabil, industri galangan kapal dalam negeri akan lebih mampu bersaing. Dengan kondisi seperti itu, pembangunan kapal di Tanah Air bisa menjadi pilihan utama, baik bagi pelaku usaha maupun pemerintah. Namun, tanpa kebijakan pendukung yang tepat, risiko keterpurukan industri tetap mengancam, terlebih di tengah tekanan ekonomi global yang terus berlanjut.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya