Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Validasi Digital Picu Rasa Berhak di Dunia Nyata

Psikolog menyatakan bahwa respons instan di media sosial dapat memicu perilaku merasa berhak atas perlakuan istimewa dalam kehidupan nyata, terutama jika tidak terpenuhi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 21.06 WITA·👁 2 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Validasi Digital Picu Rasa Berhak di Dunia Nyata📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Dalam analisis mendalam terhadap pengaruh media sosial terhadap perilaku manusia, seorang pakar psikologi dari Swansea University menyoroti dampak dari sistem ganjaran digital yang diberikan melalui fitur seperti suka, komentar, dan jumlah pengikut. Ia menjelaskan bahwa respons cepat yang diterima pengguna secara konsisten menciptakan pola otak yang terbiasa dengan kepuasan instan, bahkan mengungguli respons terhadap ganjaran materi.

Proses ini, menurut penelitian neurosains, mampu merangsang sistem saraf yang sama dengan yang aktif saat seseorang menerima hadiah uang atau barang. Ketika interaksi digital menjadi standar, individu yang terbiasa mendapat pujian secara instan mulai menuntut tingkat pengakuan yang serupa di lingkungan nyata—baik di tempat kerja, kampus, maupun dalam hubungan pribadi. Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan ini menciptakan apa yang disebut sebagai "frustration gap".

Ketika harapan akan pengakuan tidak terpenuhi, rasa kecewa dapat berubah menjadi kemarahan atau sikap defensif yang menunjukkan rasa berhak diistimewakan. Hal ini lebih sering muncul pada individu dengan ciri kepribadian narsistik yang sangat bergantung pada validasi sosial. Selain itu, konten yang ditampilkan di media sosial cenderung hanya menampilkan hasil akhir, tanpa menunjukkan proses panjang, kegagalan, atau usaha yang terlibat.

Akibatnya, persepsi tentang pencapaian menjadi terdistorsi, sehingga muncul harapan yang tidak realistis. Untuk mengurangi dampak psikologis tersebut, disarankan agar pengguna meningkatkan kesadaran diri saat berinteraksi di ruang digital. Masyarakat diminta untuk lebih menghargai proses, menumbuhkan rasa syukur, serta membangun ketahanan mental yang kuat dalam menghadapi dunia yang selalu menawarkan validasi dengan satu klik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya