Rabu, 7 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Vietnam Unggul Ekspor, Airlangga Soroti Keterlambatan Indonesia

Menteri Koordinator Perekonomian mengungkap alasan Vietnam mampu mengejar dan melampaui pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama lewat strategi industri dan kebijakan investasi yang lebih agresif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 7 Oktober 2026, 21.18 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Vietnam Unggul Ekspor, Airlangga Soroti Keterlambatan Indonesia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pertumbuhan ekonomi Vietnam yang mencapai 9 persen tahun ini menunjukkan keunggulan signifikan dibandingkan Indonesia yang stagnan di kisaran lima persen. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, keunggulan tersebut berasal dari transformasi struktur industri yang lebih maju, di mana Vietnam telah berpindah ke sektor manufaktur berteknologi tinggi, sementara Indonesia masih dominan pada industri dasar dan agrowisata. Pergeseran ini menjadi fondasi utama dalam mendorong efisiensi dan daya saing global.

Kunci utama dari keberhasilan Vietnam terletak pada ekspansi besar-besaran kawasan ekonomi khusus (KEK), yang mencapai 2 juta hektar—jauh melampaui total area KEK di Indonesia yang hanya sekitar 24 ribu hektar. Keberanian pemerintah Vietnam dalam memberikan kepastian hukum dan pelayanan optimal kepada investor asing turut mempercepat masuknya modal asing langsung. Dengan pendekatan ini, negara tetangga mampu menciptakan ekosistem investasi yang lebih menarik dibandingkan Indonesia.

Di samping infrastruktur, Vietnam juga unggul dalam diplomasi ekonomi internasional. Negara ini telah lebih dulu menandatangani Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa dan mendapatkan kebijakan tarif yang lebih menguntungkan dari Amerika Serikat. Hal ini memungkinkan produk ekspor Vietnam masuk pasar negara maju dengan biaya lebih rendah dan waktu lebih cepat, memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.

Meski demikian, Airlangga menyoroti kelemahan struktural Vietnam, yaitu ketergantungan penuh pada ekspor karena tidak memiliki pasar domestik yang kuat. Investasi yang masuk ke negara tersebut harus difokuskan pada produksi ekspor, sehingga rentan terhadap fluktuasi pasar global. Namun, di tengah tekanan eksternal seperti kenaikan harga impor akibat konflik Iran, Vietnam tetap mampu mencatatkan pertumbuhan kuartal III sebesar 8,81 persen, didorong oleh ekspor yang kuat dan investasi infrastruktur yang masif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya