Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Volvo Cars Tertekan Krisis Keuangan dan Pemangkasan Tenaga Kerja

Volvo Cars mencatat kerugian operasional besar di kuartal III-2026, disertai penurunan saham hingga 24% dan pemangkasan 2.500 pekerja, sementara produksi mobil listrik utama tertunda.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 25 Oktober 2026, 12.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Volvo Cars Tertekan Krisis Keuangan dan Pemangkasan Tenaga Kerja📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kinerja Volvo Cars pada kuartal III-2026 menunjukkan tren negatif yang mengkhawatirkan, dengan tercatatnya kerugian operasional mencapai 3,7 miliar krona Swedia—jauh melampaui ekspektasi pasar. Angka ini berbalik dari laba 5,8 miliar krona pada periode yang sama tahun sebelumnya, dan menjadi yang terburuk dalam sejarah perusahaan. Penurunan ini sejalan dengan peningkatan pengeluaran kas dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, mencapai 8,9 miliar krona, yang menandai tekanan berkelanjutan terhadap likuiditas perusahaan.

Pemimpin strategis Volvo, Hakan Samuelsson, mengakui kuartal tersebut sebagai periode paling menantang sejak awal tahun. Ia menegaskan perlunya perkuatan rencana pemulihan, termasuk langkah pengurangan tenaga kerja sebanyak 2.500 orang, sebagian besar di Swedia. Pemangkasan ini merupakan tambahan dari 3.000 pekerjaan yang telah dipangkas sebelumnya, dan mencakup penghentian kontrak konsultan, pengurangan alami, serta program pensiun dini. Target penyelesaian rencana ini ditargetkan pada pertengahan 2027.

Produksi mobil listrik utama, EX60—versi elektrik dari model XC60 yang diharapkan menjadi penopang pemulihan—justru mengalami penundaan signifikan. Hingga saat ini, hanya sekitar 5.000 unit yang berhasil diproduksi, jauh di bawah target 40.000 unit untuk tahun ini. Keterlambatan ini disebabkan oleh kendala dalam perakitan baterai, yang memperparah tekanan pada arus kas dan rencana ekspansi pasar. Akibatnya, Volvo membatalkan proyeksi volume penjualan dan arus kas untuk seluruh tahun 2026.

Margin kotor perusahaan juga menurun tajam dari 20,4% pada kuartal III-2025 menjadi 14,7% pada periode yang sama tahun ini. Dalam konteks global, Volvo menghadapi tekanan dari permintaan yang melemah, persaingan ketat dari produsen mobil China, serta kelebihan kapasitas industri. Meski demikian, perusahaan tetap memiliki kas lebih dari 30 miliar krona dan mendapat manfaat dari efisiensi biaya dan teknologi dari induk usaha, Geely Holding.

Samuelsson mengakui kekurangan strategi regional, terutama di pasar China, sebagai salah satu faktor utama keterpurukan. Ia menyadari perlunya percepatan lokalisasi produksi, terutama di Amerika Serikat, seiring ancaman tarif yang meningkat. Dengan rencana peluncuran enam dari 13 model baru khusus untuk pasar China, perusahaan berharap bisa memperbaiki kinerja dalam dua tahun ke depan. Namun, analis memperingatkan bahwa pemulihan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, mengingat tantangan struktural yang masih menghambat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya