Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Warga Lansia di AS Terjepit Biaya Hidup dan Bantuan Berkurang

Kenaikan harga BBM dan pemangkasan bantuan pemerintah memperburuk krisis pangan bagi lansia berpenghasilan rendah di Amerika Serikat, memaksa mereka memilih antara obat atau makanan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 09.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
Warga Lansia di AS Terjepit Biaya Hidup dan Bantuan Berkurang📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah ekonomi yang dikenal kuat, warga berpenghasilan rendah di Amerika Serikat kini menghadapi tekanan ekonomi yang mengancam keberlangsungan hidup. Di Detroit, seorang nenek berusia 65 tahun, Tonya King, menangis haru saat menerima bantuan makanan dari organisasi nirlaba Focus: Hope. Ia mengungkapkan ketakutan akan kehilangan akses ke kebutuhan dasar, terutama saat harga bahan bakar minyak melonjak dan bantuan pemerintah dipangkas. Setiap kotak makanan yang diterima berisi pasta, kacang kering, makanan kaleng, dan susu bubuk, cukup untuk memenuhi kebutuhan enam anggota keluarga selama dua minggu—periode yang sangat penting di tengah musim dingin.

Kondisi rumah King yang rusak parah—dengan tungku pemanas tidak berfungsi, air mengalir terputus lebih dari sebulan, lantai berlubang, dan jendela terbuka—menjadi simbol ketidakmampuan ekonomi yang mencekik. Ia yang menderita kelumpuhan otak akibat cerebral palsy harus menggunakan pispot karena tidak bisa bergerak bebas. Di tengah keterbatasan fisik dan finansial, ia harus memilih antara membeli obat untuk kejang dan obat diabetes, menunjukkan betapa dalamnya krisis kebutuhan dasar yang dialami masyarakat rentan.

Organisasi yang menyalurkan bantuan pun terdampak. Focus: Hope kini mengirimkan 1.300 kotak makanan per bulan, naik dari 800 pada awal tahun, mencerminkan meningkatnya kebutuhan. Namun, kenaikan harga diesel—yang dipicu konflik geopolitik yang melibatkan AS—membuat biaya pengiriman melonjak. Di California, Central California Food Bank melaporkan kenaikan pengeluaran bahan bakar hingga 61% hanya dalam tiga bulan, setara dengan sekitar 250.000 porsi makanan yang tidak bisa disediakan. Donatur pun terdampak, dengan sumbangan pribadi yang menurun karena tekanan biaya hidup yang sama.

Pemangkasan bantuan pemerintah turut memperparah situasi. Lebih dari 4,7 juta orang kehilangan akses ke Program Bantuan Gizi Tambahan (SNAP) sejak kebijakan pajak dan belanja tahun sebelumnya berlaku. Di Michigan, jajak pendapat menunjukkan hampir setengah pemilih menyebut biaya hidup sebagai faktor utama dalam menentukan pilihan politik menjelang pemilu sela 2026. Kandidat Demokrat Abdul El-Sayed, mantan kepala kesehatan Detroit, mengangkat isu kenaikan biaya hidup dan layanan kesehatan sebagai fokus kampanye, menekankan perlunya intervensi kebijakan untuk melindungi kelompok rentan.

Situasi ini menunjukkan bagaimana kenaikan harga energi tidak hanya memengaruhi transportasi, tetapi juga mengganggu rantai distribusi bantuan sosial dan memperlebar kesenjangan. Ketika biaya operasional meningkat, sementara dana bantuan berkurang, masyarakat paling terdampak—terutama lansia dan penyandang disabilitas—terus terjepit dalam lingkaran kemiskinan yang sulit dikeluarkan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya