Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Wisata Gelap: Ketika Tragedi Jadi Pengalaman Berwisata

Tur berbasis kisah narkoba di Spanyol yang diluncurkan mantan gembong narkoba sempat viral sebelum dilarang karena melanggar aturan pariwisata.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 17.40 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Wisata Gelap: Ketika Tragedi Jadi Pengalaman Berwisata
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebuah inisiatif wisata yang mencuat di kawasan muara Arousa, Galicia, Spanyol, mencatatkan keunikan tersendiri dalam dunia pariwisata modern. Di musim panas tahun ini, Laureano Oubiña—bekas tokoh kriminal terkemuka di wilayah tersebut—menghadirkan tur khusus yang menggambarkan latar belakang perdagangan narkoba di kawasan tersebut. Wisatawan diajak menyusuri muara dengan kapal, menyaksikan lokasi yang menjadi saksi atas era gelap peredaran narkoba, sambil mendengarkan kisah langsung dari sang mantan pemimpin jaringan. Pengalaman ini dilengkapi dengan makan siang yang disiapkan secara khusus selama perjalanan.

Namun, kehadiran tur tersebut tidak bertahan lama. Pemerintah regional Galicia segera menghentikannya setelah menilai aktivitas tersebut melanggar peraturan industri pariwisata. Larangan ini menegaskan bahwa meski konsep wisata gelap (dark tourism) terus berkembang, batas-batas etika dan regulasi tetap menjadi pertimbangan utama. Dark tourism sendiri merujuk pada praktik kunjungan ke tempat-tempat yang terkait dengan kematian, kekerasan, kejahatan, atau tragedi sejarah—baik yang bersifat kolektif maupun individual.

Fenomena ini tidak hanya menjadi perbincangan dalam dunia pariwisata, tetapi juga menarik perhatian akademisi, terutama dalam bidang kriminologi budaya. Disiplin ilmu ini meneliti bagaimana masyarakat memproses dan memahami kejahatan melalui media seperti film, podcast, dan buku true crime. Kedua fenomena—wisata gelap dan kisah kejahatan dalam media—menunjukkan bahwa respons publik terhadap kekerasan dan kejahatan jauh lebih kompleks dari sekadar rasa takut: ada unsur rasa ingin tahu, refleksi, pengenangan, dan pencarian makna.

Lokasi yang kerap menjadi sasaran wisata gelap meliputi kamp konsentrasi, monumen peringatan peristiwa berdarah, tempat-tempat konflik bersenjata seperti Perang Dunia II dan Perang Vietnam, hingga penjara bersejarah seperti Alcatraz. Namun, tidak semua destinasi berbasis tragedi. Beberapa tur juga mengarah ke kawasan perkotaan yang memiliki reputasi tinggi dalam kriminalitas, seperti favela di Rio de Janeiro atau area rawan di New York. Di Mexico City, misalnya, program Tepitour dirancang untuk mengubah persepsi publik terhadap Tepito, kawasan yang dulu identik dengan kekuasaan kartel, dengan menawarkan narasi sejarah dan sosial yang lebih mendalam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya