Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Yayoi Kusama Tutup Usia di Usia 97 Tahun

Seniman avant-garde Jepang Yayoi Kusama meninggal dunia di Tokyo pada 14 Agustus 2026, setelah menjalani hidup penuh dedikasi terhadap seni dan karya kreatif yang menginspirasi dunia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.57 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Yayoi Kusama Tutup Usia di Usia 97 Tahun📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Seniman kontemporer asal Jepang, Yayoi Kusama, telah berpulang pada usia 97 tahun, demikian dikonfirmasi oleh pihak perusahaannya. Kematian sang maestro seni terjadi di sebuah rumah sakit di Tokyo, menandai akhir dari perjalanan kreatif yang panjang dan penuh tantangan. Kusama dikenal dengan identitas visual yang khas—motif polkadot berwarna-warni yang meluas di berbagai medium, mulai dari lukisan hingga instalasi ruang tak terbatas yang memanfaatkan cermin dan cahaya.

Selama beberapa dekade, Kusama menjalani kehidupan di dalam fasilitas psikiatri, tempat ia merawat kondisi kesehatan mental yang dideritanya sejak muda. Meski hidup dalam keterbatasan fisik dan psikologis, ia tetap produktif hingga hari-hari terakhir. Pernyataan resmi menyebut bahwa ia terus melukis hingga akhir hayat, tanpa pernah meletakkan kuas, dengan fokus pada tema-tema abadi seperti cinta, kesadaran, dan kekekalan jiwa.

Karya-karyanya, yang sering dikaitkan dengan pengalaman halusinasi visual yang ia alami sejak kecil, telah membentuk pengaruh global. Ia menjadi bagian penting dari gerakan pop art dan memperoleh pengakuan internasional setelah tampil di Venice Biennale pada era 1990-an. Pameran retrospektifnya di Tate Modern London pada 2012 dan instalasi Infinity Mirror Rooms yang kembali dipamerkan pada 2021 menjadi landmark dalam sejarah seni modern, menarik jutaan pengunjung dari berbagai belahan dunia.

Kusama juga dikenal karena pengaruhnya yang luas, meski sempat merasa kecewa karena ide-ide kreatifnya diadopsi oleh seniman pria seangkatan tanpa pengakuan. Ia kembali ke Jepang setelah mengalami diskriminasi dan ketidakadilan dalam dunia seni, lalu memilih tinggal di fasilitas psikiatri sebagai tempat berlindung dan berkarya. Di sanalah ia membangun warisan seni yang tak tergantikan, dari patung raksasa di Paris hingga instalasi interaktif yang menghiasi ruang publik di Manchester dan Melbourne.

Perusahaan seninya menyatakan bahwa warisan Kusama akan terus dilanjutkan melalui seni, dengan tujuan menyebarkan harapan dan kekuatan bagi masyarakat global. Karya-karyanya, yang menggabungkan keindahan dan ketidakpastian, menjadi bukti bahwa kreativitas bisa muncul dari keterbatasan, dan bahwa seni memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dan menyatukan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya