Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

4 Perubahan Kebiasaan Makan yang Jadi Peringatan Awal Demensia

Perubahan pola makan seperti memilih makanan sederhana, kehilangan minat, lupa waktu makan, dan mengidam makanan manis bisa menjadi tanda awal demensia pada lansia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 09.11 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 35x dibuka
4 Perubahan Kebiasaan Makan yang Jadi Peringatan Awal Demensia📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perubahan dalam kebiasaan makan sering kali menjadi indikator awal dari gangguan kognitif yang muncul pada lansia, terutama dalam fase demensia. Gejala ini kerap kali diabaikan karena dianggap bagian dari penuaan alami. Namun, menurut para ahli saraf, perubahan seperti memilih makanan yang lebih sederhana, bahkan jika sebelumnya aktif memasak dengan resep kompleks, bisa menandakan penurunan fungsi kognitif. Hal ini dikarenakan demensia mengganggu kemampuan perencanaan dan koordinasi dalam aktivitas sehari-hari, termasuk memasak.

Kehilangan ketertarikan terhadap makanan juga menjadi salah satu tanda yang patut diwaspadai. Perubahan ini tidak hanya terkait nafsu makan, tetapi juga berkaitan dengan penurunan indra penciuman yang disebabkan oleh kerusakan pada area otak yang mengatur sensasi rasa dan aroma. Akibatnya, makanan terasa hambar, sehingga pengidap cenderung menolak makan meski tubuh membutuhkan nutrisi.

Selain itu, gangguan memori akibat demensia dapat menyebabkan seseorang lupa waktu makan atau tidak menyadari saat lapar atau kenyang. Hal ini karena otak yang terganggu kesulitan memproses sinyal internal tubuh. Akibatnya, pola makan bisa menjadi tidak teratur—baik terlalu sedikit atau justru berlebihan—tanpa kesadaran yang cukup dari pengidap.

Salah satu gejala paling khas yang dilaporkan adalah peningkatan kecenderungan mengonsumsi makanan manis. Menurut ahli saraf dari New York University, kondisi ini terkait dengan kerusakan pada lobus frontal dan temporal, yang berperan dalam mengatur impuls dan pilihan makanan. Ketika area ini terganggu, kontrol diri berkurang, sehingga muncul keinginan kuat terhadap makanan manis, terutama pada penderita demensia frontotemporal. Meski perubahan makanan ini bukan diagnosis pasti, kehadirannya secara konsisten bersama gejala lain seperti penurunan fungsi harian patut menjadi alasan untuk segera memeriksakan diri ke tenaga medis.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya