Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

4 Tanda Kamu Terlalu Sering Menunda Tugas

Menunda pekerjaan bukan sekadar kebiasaan ringan, tetapi bisa jadi indikator masalah produktivitas dan stres jika terus berulang tanpa perbaikan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 21.01 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
4 Tanda Kamu Terlalu Sering Menunda Tugas📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Banyak orang merasa memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas, namun justru memilih menundanya hingga mendekati batas akhir. Fenomena ini sering kali muncul dari ketidakmampuan menentukan prioritas, keinginan menunggu suasana kerja yang sempurna, atau bahkan rasa cemas terhadap hasil akhir. Ketika kebiasaan ini berulang, tugas yang seharusnya dikerjakan secara bertahap justru menumpuk, menciptakan beban mental yang semakin besar.

Salah satu ciri khas penundaan adalah menghindari pekerjaan utama meski sudah jelas penting. Alih-alih mulai mengerjakan laporan atau proyek, seseorang justru memilih aktivitas lain seperti merapikan meja, membuka media sosial, atau berbincang dengan rekan kerja. Aktivitas semacam ini, meski terlihat netral, justru menjadi pelarian dari tugas yang menimbulkan ketegangan.

Ketika tenggat waktu semakin dekat, pekerjaan baru dimulai secara mendadak, mengakibatkan hasil yang kurang matang dan kualitas kerja menurun. Bahkan, rekan kerja atau atasan sering kali harus mengingatkan kembali tentang status tugas yang belum selesai. Pengingat berulang seperti ini adalah tanda bahwa sistem manajemen waktu belum efektif dan perlu evaluasi mendalam.

Kemudian, mudah teralihkan oleh hal-hal yang tidak mendesak juga menjadi indikator kuat penundaan. Perhatian yang terus bergeser dari tugas utama ke aktivitas kecil seperti menata daftar tugas atau memeriksa pesan masuk menunjukkan bahwa fokus kerja sedang terganggu. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan strategi seperti menentukan prioritas harian, membuat jadwal kerja khusus, menghindari gangguan digital, serta memecah pekerjaan besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikelola.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya