Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

730 Santri dan Siswa Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG di Sidoarjo

Sebanyak 730 orang, termasuk santri dan pelajar, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo, dengan 23 orang masih dirawat inap.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 21.41 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
730 Santri dan Siswa Diduga Keracunan Usai Konsumsi MBG di Sidoarjo
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kasus keracunan massal akibat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, kini melibatkan 730 orang, termasuk santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan siswa dari 19 sekolah. Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo telah mengumpulkan data dari berbagai fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, puskesmas, klinik, dan praktik dokter swasta. Angka ini mencerminkan jumlah total pasien yang melapor atau dirawat akibat gejala setelah mengonsumsi menu MBG pada Selasa (1/9) siang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 orang masih menjalani rawat inap hingga pukul 15.10 WIB, sementara 706 lainnya telah dipindahkan ke status rawat jalan. Satu pasien masih dalam tahap observasi khusus dan saat ini berada di RSUD RT Notopuro Sidoarjo. Petugas medis memantau kondisi pasien secara ketat, terutama yang mengalami gejala berat seperti muntah, pusing, dan mual.

Menu MBG yang diduga menjadi penyebab krisis kesehatan terdiri atas nasi putih, orak arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel. Menu tersebut diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin. Tim investigasi kini sedang melakukan pemeriksaan terhadap proses produksi, distribusi, dan bahan baku untuk menentukan apakah terjadi kontaminasi atau kesalahan dalam pengolahan pangan.

Pemerintah daerah dan lembaga kesehatan terus memperbarui data dan memastikan penanganan medis optimal bagi seluruh korban. Kegiatan penyelidikan juga melibatkan audit kualitas pangan dan peninjauan protokol distribusi makanan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya