Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Abun Vulkanik Ancam Keselamatan Penerbangan, Ratusan Penerbangan Dibatalkan

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik hingga 50.000 kaki, mengganggu lebih dari 1.500 penerbangan dan memaksa delapan bandara menutup sementara operasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 07.26 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Abun Vulkanik Ancam Keselamatan Penerbangan, Ratusan Penerbangan Dibatalkan
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 memicu penyebaran abu vulkanik yang menyebar luas ke wilayah Jawa dan Sumatra, termasuk sekitar Jakarta. Kondisi ini mengancam keselamatan penerbangan, bukan hanya karena gangguan jarak pandang, tetapi akibat potensi kerusakan serius pada mesin dan sistem pesawat. Dalam waktu singkat, sejumlah bandara di kawasan tersebut mengambil keputusan menutup sementara operasional untuk menghindari risiko, terutama menyusul laporan awan abu mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki.

Partikel abu vulkanik yang sangat halus dan bersifat abrasif dapat masuk ke dalam mesin pesawat saat terbang melalui awan tersebut. Pada suhu tinggi di dalam mesin, material ini meleleh lalu menempel pada komponen yang lebih dingin, mengganggu aliran udara dan menurunkan efisiensi. Selain itu, sifat mengikis abu dapat mempercepat keausan internal mesin. Data dari United States Geological Survey (USGS) menunjukkan bahwa dari 129 insiden pertemuan pesawat dengan abu vulkanik hingga 2009, 79 menyebabkan kerusakan mesin atau badan pesawat, termasuk sembilan kasus di mana mesin mati saat terbang.

Bahaya tidak hanya terbatas pada mesin. Abu vulkanik juga dapat menggores kaca kokpit, mengurangi visibilitas pilot secara signifikan. Bahkan pada konsentrasi rendah, paparan material ini dapat mempercepat kerusakan pada sistem elektronik dan komponen lain. Karena abu tidak selalu terlihat sebagai awan tebal dan dapat menyerupai awan biasa, identifikasi memerlukan pemantauan satelit, data gunung api, serta koordinasi antar otoritas penerbangan. Keputusan menutup atau mengalihkan rute penerbangan sering kali diambil meskipun cuaca di darat tampak normal.

Penutupan bandara dilakukan sebagai tindakan pencegahan, bukan reaksi terlambat. Dalam kasus ini, delapan bandara mengalami dampak langsung, dengan lebih dari 1.500 penerbangan dibatalkan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak. Meski mengganggu jadwal perjalanan, kebijakan tersebut ditempuh demi meminimalkan risiko kecelakaan akibat kerusakan mesin atau kegagalan sistem. Menaikkan atau menurunkan ketinggian penerbangan bukan solusi pasti, karena abu dapat tersebar di berbagai lapisan atmosfer dengan arah angin yang berbeda.

Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Meskipun pesawat dirancang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem, abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda yang dapat menyebabkan kegagalan sistem kritis. Sejarah telah mencatat insiden serius, seperti kehilangan tenaga pada empat mesin pesawat pada 1982 akibat erupsi Gunung Galunggung. Oleh karena itu, larangan terbang atau pengalihan rute saat abu vulkanik terdeteksi merupakan langkah wajib, bukan sekadar kebijakan administratif. Pemantauan terus-menerus dan koordinasi antar lembaga menjadi kunci dalam menjaga keselamatan penerbangan di area rawan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya