AirAsia Jajaki Dukungan Pemerintah Akibat Tekanan Keuangan
AirAsia mempertimbangkan bantuan pemerintah Malaysia menyusul krisis keuangan akibat melonjaknya harga avtur dan kerugian besar, meski pendiri menegaskan belum meminta bantuan secara resmi.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 13 Oktober 2026, 21.21 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 28x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pendiri AirAsia, Tony Fernandes, dikabarkan telah bertemu dengan pejabat Kementerian Keuangan Malaysia dalam dua pekan terakhir, membahas tantangan keuangan yang dihadapi maskapai berbiaya rendah tersebut. Pertemuan ini muncul di tengah tekanan akibat kenaikan harga avtur sebesar 66 persen menjadi US$183 per barel pada kuartal II 2026, yang turut memperparah kondisi finansial perusahaan. Dalam wawancara eksklusif, Tony membantah adanya pembicaraan tentang bantuan keuangan langsung, tetapi mengonfirmasi diskusi terkait biaya operasional, termasuk tarif bandara dan alokasi sumber daya.
Meski menolak mengakui permintaan bantuan, Tony menyatakan bahwa pihaknya sedang mengajukan dukungan dalam bentuk pinjaman dari lembaga keuangan lokal Malaysia. Tujuannya adalah menghindari ketergantungan pada pinjaman asing dengan suku bunga tinggi dan risiko nilai tukar yang tidak stabil. Ia menekankan bahwa AirAsia tetap berkomitmen untuk menjaga kemandirian finansial, sebagaimana dilakukan selama masa pandemi, namun tetap terbuka terhadap bantuan jika disediakan oleh pemerintah.
Kementerian Keuangan Malaysia tidak memberikan tanggapan resmi atas kabar pertemuan tersebut, sementara Menteri Transportasi Anthony Loke menegaskan tidak pernah mengadakan pertemuan dengan AirAsia dalam dua hingga tiga pekan terakhir. Ia menambahkan bahwa komunikasi rutin antara maskapai dan pemerintah merupakan hal biasa, tetapi tidak menandakan adanya intervensi atau rencana bantuan. Namun, kekhawatiran pemerintah terhadap stabilitas industri penerbangan tetap tinggi, mengingat dampak berantai terhadap pariwisata, konektivitas, dan operasional bandara milik negara.
Data terbaru menunjukkan AirAsia membukukan kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit atau sekitar US$204 juta pada kuartal II 2026, didorong oleh kenaikan biaya bahan bakar dan kerugian selisih kurs mencapai 331 juta ringgit. Posisi kas per 30 Juni tercatat sebesar 954 juta ringgit, sementara kewajiban lancar mencapai 18,4 miliar ringgit. Dengan dominasi pasar domestik mencapai 60 persen dan total pasar penerbangan Malaysia sebesar 40 persen, keberlangsungan AirAsia menjadi isu strategis bagi pemerintah.
Sejalan dengan itu, pemerintah Malaysia telah mulai berkoordinasi dengan Malaysia Airlines dan Batik Air untuk mempertimbangkan pengambilalihan operasi jika kondisi AirAsia memburuk. Namun, kedua maskapai menyatakan akan mempertimbangkan rencana tersebut hanya jika juga bisa mengambil alih sewa pesawat. Mereka lebih memilih ekspansi organik dibanding akuisisi menyeluruh, mengingat kompleksitas operasional tanpa aset pesawat. Keputusan akhir masih menunggu evaluasi lebih lanjut terhadap skenario terburuk yang bisa mengganggu stabilitas industri penerbangan nasional.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Target PNBP ESDM 2026 Naik Jadi Rp165 Triliun
Pemerintah menaikkan target setoran PNBP sektor energi dan mineral tahun 2026 menjadi Rp165 triliun, didorong capaian positif hingga September yang sudah mencapai 93,78% dari target sebelumnya.
25 Oktober 2026

Rupiah Terus Melemah di Atas Rp18.000/US$
Rupiah mengalami tekanan berkelanjutan dengan nilai tukar menembus level Rp18.040 per dolar AS, dipicu penguatan greenback dan penurunan persepsi investasi global.
25 Oktober 2026

BRILink Agen Fillio Dorong Inklusi Keuangan di Dumai
Layanan keuangan melalui BRILink Agen Fillio di Dumai berhasil meningkatkan akses transaksi keuangan bagi masyarakat, terutama UMKM dan lansia, sekaligus mendukung perputaran ekonomi lokal.
25 Oktober 2026

Obama: Pemilu Sela adalah Batas Terakhir Menghentikan Kebodohan Politik
Mantan Presiden AS Barack Obama menyerukan dukungan terhadap Demokrat dalam pemilu sela, menilai pemerintahan Trump telah membawa kekacauan dan kebijakan yang merusak stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.
25 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pembantaian Massal Warga Tionghoa di Batavia 1740
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.30 WITA

Kim Jong Un Kunjungi China Lewat Jembatan Baru Yalu
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.29 WITA

Pencabutan Izin Tambang Emas di Papua Tengah Ditetapkan
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.28 WITA

BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca di Jakarta untuk Kurangi Polusi
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.28 WITA

Pengawal Energi Buka Pendaftaran untuk Lulusan Muda
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.26 WITA

Jasa Marga Jalankan Preservasi Berkala Jalan Tol
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.25 WITA

Prabowo Bahas Pendidikan Kepemimpinan di Hambalang
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pemerintah Siapkan Rp883 Miliar untuk Diskon Transportasi Nataru
Minggu, 25 Oktober 2026, 21.21 WITA

