Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Akses Cepat Data Sebaran Abu Vulkanik via HP

Warga bisa pantau risiko abu vulkanik pasca-erupsi Anak Krakatau melalui situs daring yang menyediakan pemantauan real-time dari ponsel.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.37 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Akses Cepat Data Sebaran Abu Vulkanik via HP
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang bermula pada Jumat (4/9) menghasilkan penyebaran abu vulkanik yang mencapai wilayah Jawa Barat, Lampung, Banten, hingga sekitar perairan Samudra Hindia. Sebaran ini terpantau hingga Senin (7/9), dengan ketinggian debu mencapai 15.000 kaki ke arah tenggara-barat laut, meliputi wilayah darat dan laut di sekitar Bengkulu, Lampung, dan Banten. Sementara itu, abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya, menjauhi wilayah Indonesia, menandakan pergerakan yang terus dipantau secara intensif.

Informasi resmi mengenai sebaran abu vulkanik disediakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui berbagai platform digital seperti Instagram, Twitter, TikTok, dan YouTube. Lembaga ini memperbarui data secara berkala untuk memastikan masyarakat dan penerbangan dapat mengambil keputusan tepat waktu. Pemantauan ini penting untuk menekan risiko terhadap kesehatan, transportasi udara, dan aktivitas sehari-hari di daerah terdampak.

Seorang warganet bernama Tri Purnomo Aji mengembangkan situs abu.cikoytew.my.id sebagai alat bantu pemantauan yang mudah diakses melalui ponsel. Situs ini menampilkan data real-time dari sumber resmi yang digunakan maskapai penerbangan untuk menentukan rute terbang. Dengan tampilan antarmuka sederhana, pengguna dapat memantau gunung api yang sedang dalam status Siaga, arah pergerakan abu, serta mengetahui apakah kota tempat tinggal berpotensi terdampak dalam jangka waktu 18 jam ke depan.

Cara penggunaan situs ini sangat praktis: cukup buka melalui browser di HP, pilih gunung api yang ingin dipantau, masukkan nama kota atau aktifkan fitur lokasi, lalu sistem akan menampilkan hasil berdasarkan data terkini. Tidak perlu instalasi aplikasi, dan semua informasi tersedia secara gratis. Dengan demikian, masyarakat umum dapat mengakses data kritis tanpa harus mengandalkan media resmi semata.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya