Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Aksi Massal Soroti Krisis Karhutla dan Kegagalan Kebijakan

Ratusan warga sipil Surabaya menggelar demonstrasi menuntut penetapan karhutla sebagai bencana nasional dan mengecam kebijakan pemerintah yang dianggap abai terhadap krisis lingkungan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 22 Oktober 2026, 21.20 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 43x dibuka
Aksi Massal Soroti Krisis Karhutla dan Kegagalan Kebijakan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ratusan warga dari berbagai latar belakang—mahasiswa, buruh, pekerja, dan aktivis sipil—melangsungkan aksi demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Kamis (22/10) sore. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan bergerak dari Tugu Bambung Runcing menuju lokasi dengan longmars, menunjukkan solidaritas kolektif tanpa atribut organisasi yang mencolok. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk peringatan dua tahun masa jabatan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Di lokasi, massa membentuk formasi melingkar di Jalan Gubernur Suryo dan menyampaikan orasi secara bergantian. Spanduk-spanduk bernada protes seperti 'All Eyes on Karhutla', 'Cukup 2 Tahun', dan 'BBM Langka' terpampang di tengah kerumunan. Koordinator Lapangan, Daniel Situmorang, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk perlawanan akar rumput yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Ia menyoroti keterlambatan respons pemerintah terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua, yang telah menyebabkan korban jiwa dan krisis kesehatan pernapasan.

Massa mendesak pemerintah segera menetapkan karhutla sebagai bencana nasional tanpa prosedur administratif yang rumit. Daniel menekankan bahwa nyawa warga telah melayang akibat paparan asap pekat, dan upaya penanganan harus segera diperkuat. Ia menyoroti ketidakseimbangan sumber daya, di mana fasilitas negara seperti water cannon justru diposisikan untuk mengamankan aksi, bukan digunakan untuk memadamkan api di daerah terdampak. Ia menyatakan bahwa sumber daya tersebut seharusnya dialihkan ke wilayah krisis, bukan ke gedung pemerintahan.

Seorang peserta aksi asal Kalimantan Timur yang saat ini menempuh studi di Unair Surabaya, Muhammad Athar Farizi, tampil dengan emosi terbuka. Ia menceritakan penderitaan keluarganya akibat asap karhutla yang memutus aktivitas harian dan memperburuk kondisi pernapasan. Ia menyayangkan sikap pemimpin yang dianggap jauh dari realitas rakyat, menilai bahwa pemerintah hanya menikmati kenyamanan di gedung-gedung tinggi tanpa menyentuh penderitaan masyarakat di lapangan. Aksi ditutup dengan pemasangan spanduk putih berisi empat tuntutan utama di Patung Gubernur Suryo, seberang Gedung Grahadi, sebagai simbol komitmen berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya