Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Anak Krakatau dan Ancaman Longsoran yang Tak Pernah Hilang

Pakar kebencanaan menegaskan bahwa longsoran lereng gunung menjadi ancaman permanen selama aktivitas pembentukan tubuh Anak Krakatau berlangsung, meski saat ini struktur gunung lebih stabil dibanding 2018.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 11.37 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 7x dibuka
Anak Krakatau dan Ancaman Longsoran yang Tak Pernah Hilang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Erupsi terkini Gunung Anak Krakatau kembali memicu perhatian publik terhadap potensi bahaya tsunami yang muncul bukan dari letusan eksplosif, melainkan dari longsoran struktural. Pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menyoroti peristiwa 2018 sebagai acuan penting, di mana gelombang tsunami disebabkan bukan oleh gas atau abu, melainkan runtuhnya sebagian dinding gunung ke laut akibat ketidakstabilan struktural. Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman tsunami vulkanik dapat terjadi tanpa peringatan seismik awal.

Kondisi saat ini berbeda secara signifikan dari morfologi gunung sebelum peristiwa 2018. Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan bahwa struktur tubuh Anak Krakatau kini lebih kokoh dan tidak menunjukkan indikasi longsoran besar. Namun, pakar tetap menekankan bahwa mekanisme longsoran lereng tetap menjadi risiko permanen selama proses pembentukan tubuh gunung terus berlangsung melalui akumulasi lava baru. Ketidakstabilan struktural akan muncul ketika konsistensi material mencapai titik kritis, yang bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan jangka panjang.

Untuk mengurangi risiko, diperlukan pendekatan mitigasi yang lebih komprehensif. Pemerintah diminta memperkuat sistem pemantauan dengan menambah jaringan tide gauge, radar cuaca maritim, dan sensor deformasi lereng secara real-time di wilayah pesisir yang rentan. Selain itu, perlu diterapkan tata ruang berbasis risiko dengan penetapan zona kerawanan bencana secara ketat, khususnya di area pesisir Selat Sunda, untuk membatasi pembangunan infrastruktur permanen di titik rawan.

Penguatan sistem peringatan juga harus menyasar masyarakat secara langsung. Edukasi kebencanaan perlu ditingkatkan agar masyarakat pesisir mampu melakukan evakuasi mandiri tanpa menunggu konfirmasi resmi. Mereka harus dilatih mengenali indikasi visual erupsi besar atau mendengar sirene peringatan dini sebagai sinyal untuk segera bergerak ke tempat aman. Jalur evakuasi, tempat evakuasi sementara di dataran tinggi, serta konservasi mangrove di pesisir menjadi bagian penting dari strategi perlindungan.

Pendekatan ini menekankan pentingnya literasi kebencanaan berbasis multi-hazard. Masyarakat perlu memahami bahwa ancaman di Selat Sunda tidak hanya berasal dari gempa bumi tektonik, tetapi juga dari fenomena non-tektonik seperti longsoran dan tsunami vulkanik yang bisa terjadi sangat cepat. Dengan kesadaran dan kesiapan yang tinggi, masyarakat dapat bertindak cepat, tetap tenang, dan menyelamatkan diri sebelum gelombang datang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya