Rupiah Melemah di Akhir Pekan, Sentuh Rp17.585 per Dolar AS
Rupiah ditutup melemah 0,31% ke posisi Rp17.585 per dolar AS pada akhir perdagangan pekan ini, didorong penguatan dolar AS global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 19.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan pada perdagangan terakhir pekan ini, menutup sesi dengan depresiasi 0,31% terhadap dolar Amerika Serikat. Pada penutupan pasar, mata uang lokal berada di level Rp17.585 per dolar AS, setelah sempat menyentuh posisi terlemah di Rp17.620. Pergerakan harian menunjukkan fluktuasi cukup signifikan, dimulai dari pelemahan 0,23% di awal perdagangan. Tekanan terhadap rupiah mulai mereda menjelang akhir sesi, memungkinkan penguatan sebesar 35 poin dari titik terendah hari itu.
Penguatan dolar AS secara global menjadi pemicu utama melemahnya rupiah. Indeks dolar AS (DXY) naik 0,05% ke level 99,096 pada pukul 15.00 WIB, mencerminkan kenaikan daya tarik greenback di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi turut mendorong aliran modal ke aset aman, termasuk dolar AS. Harga minyak mentah Brent melonjak 1,2% menjadi US$108,96 per barel, menandai kenaikan hari keenam berturut-turut sejak awal pekan.
Kenaikan harga energi turut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve. Data indeks harga produsen AS yang naik 0,4% pada Agustus memperkuat narasi inflasi yang tetap tinggi. Berdasarkan proyeksi CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 15–16 September mendatang meningkat menjadi 71,3%, naik dari 61,2% sebelumnya. Peningkatan ekspektasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level 4,965%, mendekati angka 5%.
Dengan fokus pasar yang kini tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS pada Jumat waktu setempat, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh hasil laporan tersebut. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed akan semakin besar, yang berpotensi mengangkat dolar AS dan menambah tekanan pada mata uang negara berkembang seperti rupiah. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi dapat melemahkan ekspektasi pengetatan moneter, membuka ruang bagi rupiah untuk memperbaiki posisi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


