APBN Masih Kuat Hadapi Lonjakan Harga Minyak Global
Harga minyak dunia tembus US$100 per barel, tetapi APBN Indonesia dinilai masih mampu menahan tekanan fiskal hingga akhir 2026.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 11.30 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Harga minyak mentah dunia kembali melonjak ke level US$100 per barel pada awal pekan ini, mencatatkan kenaikan tertinggi sejak Juli 2026. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya menyusul eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang mengancam aliran minyak global. Dalam perdagangan Kamis (10/9), harga minyak Brent naik tipis menjadi US$101,34 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS berada di kisaran US$96,55 per barel. Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki ruang untuk menghadapi tekanan harga minyak global. Ia menyatakan bahwa pemerintah belum mempertimbangkan penambahan kuota subsidi energi meski harga minyak meningkat. Namun, pemerintah tetap memantau perkembangan pasar secara ketat untuk menentukan respons strategis di masa depan. “Belum ada rencana menambah kuota subsidi. Kita terus pantau perkembangannya agar tidak terjadi lonjakan berkelanjutan,” ujar Purbaya saat dikonfirmasi di Jakarta.
Menurut analis energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, APBN Indonesia memiliki ruang fiskal sekitar Rp38,6 triliun pada asumsi harga minyak Brent US$100 per barel. Dengan beban tambahan sekitar Rp7,9 triliun per bulan akibat kenaikan harga minyak, ruang tersebut diperkirakan cukup menopang kebijakan subsidi hingga lima bulan ke depan. Ia menekankan bahwa meski APBN aman hingga akhir 2026, pemerintah perlu mulai mempersiapkan desain fiskal untuk tahun 2027, karena di tahun tersebut ruang fiskal diperkirakan akan habis jika tren harga tetap tinggi.
Yayan juga mengingatkan adanya risiko ganda jika kenaikan harga minyak berjalan bersama pelemahan nilai tukar rupiah. Karena Indonesia membeli minyak dalam dolar tetapi membayar subsidi dalam rupiah, tekanan ganda ini dapat melipatgandakan beban fiskal. Misalnya, jika minyak mencapai US$100 dan rupiah melemah ke Rp18.000 per dolar, beban subsidi bisa meningkat hingga 2,3 kali lipat dari dampak harga minyak semata. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai tukar kurs sejalan dengan pengelolaan harga minyak untuk mencegah krisis fiskal berkelanjutan.
Sementara itu, analis dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menyoroti bahwa jika beban subsidi terus membengkak, pemerintah harus melakukan reprioritisasi anggaran secara ketat. Ia menekankan bahwa penghematan dari efisiensi belanja bisa menutup defisit hingga sekitar Rp30 triliun. Namun, di atas angka tersebut, pilihan hanya dua: menambah utang atau memperketat sasaran subsidi. Ronny menekankan pentingnya melindungi belanja sosial dan modal, karena keduanya merupakan penopang utama ekonomi rakyat dan pertumbuhan ekonomi. Ia juga menegaskan bahwa penajaman sasaran subsidi, meski penting untuk keadilan, tidak cukup menjadi solusi utama menghadapi tekanan fiskal skala besar.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Premi Asuransi Mobil Listrik Lebih Tinggi, Ini Alasannya
Biaya perbaikan dan suku cadang yang mahal menjadi penyebab premi asuransi mobil listrik lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional, sesuai penjelasan dari perusahaan asuransi di tengah penyesuaian tarif.
11 September 2026

Beli iPhone 18 Duo di Luar Negeri? Siapkan Rp66,7 Juta untuk Pajak
Konsumen yang membeli iPhone 18 Duo 2 TB dari AS harus siap membayar bea masuk dan PPN hingga Rp10,5 juta saat masuk ke Indonesia.
11 September 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.570 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah 0,23% ke level Rp17.570/US$ pada awal perdagangan Jumat, dipengaruhi penguatan dolar global dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
11 September 2026

Laba TINS Melonjak 805% di Semester I 2026
PT Timah (Persero) Tbk. mencatat laba bersih Rp2,71 triliun pada semester pertama 2026, naik 805% dibanding periode sama tahun sebelumnya, didorong kenaikan harga dan volume penjualan logam timah.
11 September 2026
Berita Lainnya

Cek Tagihan dan Tarif Listrik PLN via HP, Ini Rincian 2026
Jumat, 11 September 2026, 19.46 WITA

Google Maps Dorong Kolaborasi Lokasi Real-Time Tanpa Batas
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia Siapkan Tim Negosiator Unggul untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi 2029
Jumat, 11 September 2026, 19.39 WITA

Indonesia dan Rusia Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalimantan
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Operator Kapal Masih Enggan Angkut Mobil Listrik
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

WEY G9 Hi4 Resmi Hadir, Ancam Dominasi Alphard
Jumat, 11 September 2026, 19.38 WITA

Kapolri Ajak Pengusaha Laporkan Premanisme di Kawasan Industri
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA

GWM Perluas Jaringan Diler ke Kota-Kota Strategis
Jumat, 11 September 2026, 19.37 WITA


