AS Periksa Dugaan Serangan di Pesta Pernikahan Iran
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan negaranya sedang menyelidiki laporan serangan militer yang menewaskan empat orang dalam acara pernikahan di Hormozgan, Iran, sambil menegaskan keberpihakan pada keamanan jalur maritim global.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 13.49 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap laporan serangan militer yang menargetkan sebuah acara pernikahan di wilayah Hormozgan, Iran, pada malam Selasa. Insiden tersebut dilaporkan menewaskan empat warga sipil, dengan belasan lainnya mengalami luka-luka. Serangan ini terjadi di tengah ketegangan meningkat di Selat Hormuz, yang telah menjadi lokasi konflik berkelanjutan sejak bulan lalu.
Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak pernah menyasar warga sipil dalam operasi militer, meski mengakui bahwa kesalahan dalam pelaksanaan operasi bisa terjadi. Ia menekankan bahwa keberhasilan militer AS didasarkan pada pembelajaran dari setiap insiden, termasuk yang mungkin melibatkan ketidakakuratan informasi. Ia juga menyampaikan keraguan terhadap kredibilitas media pemerintah Iran sebagai sumber utama informasi mengenai insiden tersebut.
Dalam sesi pengarahan di Gedung Putih, Vance menolak menyebut situasi saat ini sebagai "perang", menegaskan bahwa tidak ada pertempuran aktif atau baku tembak yang sedang berlangsung. Ia menekankan bahwa operasi militer AS tetap terfokus pada menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi rute vital bagi ekspor minyak global.
Iran telah melakukan penembakan terhadap kapal komersial yang dikaitkan dengan AS dan Israel sejak awal Februari, termasuk setelah serangan besar pada 28 Februari. Namun, menurut Vance, sekitar 15 juta barel minyak berhasil dilewati Selat Hormuz hanya dalam satu hari, meskipun adanya ancaman. Ia menekankan bahwa Amerika Serikat merupakan satu-satunya kekuatan global yang mampu menjamin kelancaran pasokan energi dunia, terutama dalam konteks ketidakmampuan negara lain untuk mengambil peran serupa.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Houthi Negasi Serangan ke Makkah dan Madinah, Sebut Klaim Saudi Bohong
Kelompok Houthi menyangkal tudingan Arab Saudi bahwa rudal mereka menargetkan Makkah dan Madinah, menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan besar.
25 Oktober 2026

4 Pilot Tewas dalam Tabrakan Pesawat Latih di Filipina
Dua pesawat latih SF-260 Angkatan Udara Filipina bertabrakan saat latihan, menewaskan empat pilot di Pangkalan Udara Fernando, Batangas.
25 Oktober 2026

Supervisor 34 Tahun Cari Kerja Sesuai Pengalaman
Seorang supervisor berusia 34 tahun berjuang menemukan pekerjaan yang sesuai keterampilan setelah kontrak kerja berakhir, dengan pilihan terbatas dan harapan tetap optimistis meski harus memulai dari bawah.
24 Oktober 2026

Nenek 96 Tahun Raih 15 Juta Pengikut, Bantu Biaya Panti Jompo
Nenek asal Connecticut berhasil menutupi biaya tinggal di panti jompo sebesar Rp190 juta per bulan melalui pendapatan dari media sosial.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Transformasi Energi Indonesia Menapaki Jalur Kemandirian
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.30 WITA

Penghapusan Insentif Flat Hemat Rp3 Triliun untuk MBG
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.29 WITA

Lula dan Flavio Bolsonaro Saling Serang di Debat Akhir Pemilu
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.09 WITA

Koneksi Starlink Stabil di Kecepatan 400 km/Jam, Ungkap Menteri Pertahanan Ukraina
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.08 WITA

Penyintas Serangan Gereja Yordania Ungkap Detik-detik Pelaku Arahkan Pistol
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

RI Kurangi Ekspor Gas ke Singapura, Dampaknya Di Bawah 2 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.07 WITA

Richard Lee: Jangan Lawan Iblis dengan Logika
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

Kanye West Tutup Konser GBK dengan Runaway Emosional
Minggu, 25 Oktober 2026, 09.06 WITA

