Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

AS Perketat Tekanan Militer di Selat Hormuz

Amerika Serikat menyelesaikan serangan militer terbaru ke Iran selama lima jam, menargetkan fasilitas strategis di pesisir selatan guna melemahkan blokade Selat Hormuz.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 21.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
AS Perketat Tekanan Militer di Selat Hormuz
Foto: Tempo

Kendari, ıNarasikita - Komando Pusat Amerika Serikat melaporkan telah menyelesaikan operasi militer terbarunya terhadap Iran pada Senin malam, 13 Juli 2026, dengan serangan berdurasi lima jam yang menyasar sejumlah lokasi kritis di wilayah Bushehr, Chabahar, Jaskh, Abu Musa, dan Bandar Abbas. Serangan ini dilakukan menggunakan amunisi berpemandu presisi guna menghancurkan sistem pertahanan pantai, fasilitas rudal dan drone, serta aset maritim militer Iran. Langkah ini merupakan tindakan tiga hari berturut-turut yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump, dengan tujuan menghambat kemampuan militer Iran dalam mengontrol jalur strategis Selat Hormuz.

Dalam konteks yang sama, pasukan AS saat ini memiliki lebih dari 50.000 personel yang tersebar di kawasan Timur Tengah dalam kondisi siaga penuh. Serangan tersebut diikuti oleh respons Iran yang menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain serta dua kapal tanker yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab di Selat Hormuz. Kementerian Pertahanan Abu Dhabi mengonfirmasi satu pelaut tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan tersebut. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas penyerangan terhadap kapal-kapal tersebut, menegaskan bahwa tindakan itu sah karena kapal-kapal tersebut mengabaikan peringatan.

IRGC juga menyatakan telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Manama, menyerang gudang senjata, pusat komunikasi satelit, serta barak militer AS. Dalam pernyataan yang disiarkan melalui media pemerintah IRIB, pihak Iran menegaskan bahwa tindakan mereka adalah bentuk pertahanan terhadap agresi asing. Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan berperan sebagai "Penjaga Selat Hormuz" dan akan mengenakan biaya 20 persen terhadap semua kapal yang melintasi jalur tersebut, meskipun sebelumnya sempat menolak kebijakan serupa.

Pernyataan Trump di Truth Social menegaskan bahwa perlindungan terhadap jalur perdagangan global harus dibayar, sekaligus menekankan bahwa kesepakatan diplomasi dengan Iran masih memungkinkan. Ia menyebut bahwa dua hari sebelumnya kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, namun Iran meminta perundingan dilanjutkan. Dalam wawancara dengan Hugh Hewitt, Trump menilai kesepakatan bulan lalu hanya sebagai uji komitmen, yang menurutnya Iran tidak memenuhinya. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan nota kesepahaman Juni kini berada dalam kondisi krisis, dengan kemitraan yang kian rapuh.

Pentagon telah diberi kewenangan tambahan selama 60 hari untuk menjalankan operasi militer di kawasan tanpa persetujuan Kongres, setelah Presiden Trump secara resmi memberitahu lembaga legislatif pekan lalu. Keputusan ini menunjukkan komitmen AS terhadap strategi keamanan maritim yang lebih agresif, sekaligus menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer tetap menjadi opsi utama dalam menangani ketegangan di kawasan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya