Senin, 26 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Asing Jual GOTO, ISAT, dan Saham Tambang

Investor asing mencatatkan penjualan bersih terbesar pada saham GoTo, Indosat, dan emas, meski IHSG masih mampu naik 1,14% ke level 6.599,94.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 2 September 2026, 09.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Asing Jual GOTO, ISAT, dan Saham Tambang📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar saham Indonesia mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa (1/9/2026), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.599,94, menguat 1,14% dan mendekati ambang psikologis 6.600. Di tengah kenaikan tersebut, terjadi pergerakan berbeda dalam aliran dana asing, yang secara keseluruhan mencatatkan net buy sebesar Rp2,03 triliun. Total transaksi mencapai Rp11,88 triliun, dengan aksi beli sebesar Rp6,95 triliun dan penjualan sebesar Rp4,93 triliun.

Namun, di tengah aliran dana positif secara umum, sejumlah emiten justru menjadi target aksi jual asing. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi saham dengan net sell terbesar, mencapai Rp152,5 miliar. Di posisi kedua, PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) mencatat penjualan bersih sebesar Rp92,7 miliar, disusul PT Indosat Tbk (ISAT) dengan nilai jual bersih Rp84 miliar.

Sektor pertambangan dan emas juga mengalami tekanan jual dari investor asing. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) tercatat melepas saham senilai Rp64,1 miliar, disusul PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan penjualan bersih Rp40 miliar dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar Rp39,5 miliar. Selain itu, saham-saham lain seperti DSSA, AMMN, AKRA, dan ANTM juga mengalami penjualan bersih dari asing, meski dengan angka yang lebih kecil.

Ketika sejumlah emiten mengalami aksi jual besar, aliran dana asing justru tertuju pada emiten berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi penerima net buy terbesar dengan nilai Rp841 miliar, diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp435,4 miliar dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan Rp172,3 miliar. Pergerakan ini menunjukkan preferensi investor asing terhadap saham-saham dengan likuiditas tinggi dan stabilitas fundamental yang kuat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya