Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Bahaya Abu Vulkanik bagi Paru dan Kulit, Ini Imbauan Dokter

Paparan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi sebabkan iritasi pernapasan, kulit, dan mata; dokter paru menekankan pencegahan melalui masker dan hindari aktivitas luar ruangan berlebihan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.44 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Bahaya Abu Vulkanik bagi Paru dan Kulit, Ini Imbauan Dokter
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Abu vulkanik yang menyebar pascaerupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dinyatakan berisiko bagi kesehatan pernapasan jika terhirup secara berkepanjangan. Menurut pakar paru, material ini mengandung campuran mineral, batuan, dan partikel kaca yang dapat mengiritasi saluran napas. Paparan jangka panjang bahkan dapat memicu bronkitis dan memperparah kondisi penderita asma serta Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Kondisi tersebut ditegaskan oleh seorang dokter paru yang menyoroti dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah terdampak langsung. Ia menekankan bahwa debu vulkanik bukan hanya berbahaya bagi paru, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Bahkan, jika masuk ke sumber air atau makanan, risiko gangguan pencernaan juga muncul. Dalam kasus ekstrem, paparan tinggi di dekat lokasi letusan bisa mengakibatkan asfiksia atau sensasi sesak napas parah.

Untuk mengurangi risiko, dokter tersebut mengimbau masyarakat untuk mengikuti perkembangan informasi resmi dari otoritas terkait, seperti BMKG, serta membatasi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker wajib diterapkan, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita penyakit paru kronik. Bagi yang beraktivitas di luar rumah, disarankan memakai kacamata pelindung dan pakaian tertutup agar tidak terpapar partikel halus.

Selain itu, penting untuk segera mencuci tubuh dan pakaian setelah berada di luar ruangan. Rumah sebaiknya ditutup rapat agar abu tidak masuk ke dalam ruangan. Meski situasi di Jakarta dan sekitarnya belum memerlukan tindakan darurat, dokter tetap mengingatkan agar masyarakat tetap waspada dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala pernapasan atau iritasi.

Pencegahan tetap menjadi kunci utama. Dokter menekankan perlunya menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat, termasuk istirahat cukup, asupan gizi seimbang, dan menjaga kebersihan lingkungan. Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, dampak kesehatan dari abu vulkanik dapat diminimalkan meski kondisi erupsi masih berlangsung.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya