Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Bahlil Dukung Usulan Nuklir, Teknologi Siap Dikaji

Menteri ESDM menyambut positif usulan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir dari akademisi, sejalan dengan rencana jangka panjang pemerintah dan tawaran kerja sama internasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 12.28 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 111x dibuka
Bahlil Dukung Usulan Nuklir, Teknologi Siap Dikaji📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi secara resmi menyampaikan dukungan terhadap rekomendasi pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir yang diajukan oleh kelompok cendekiawan. Usulan tersebut dinilai selaras dengan arahan strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber listrik. Bahlil menekankan pentingnya melibatkan akademisi dalam proses perencanaan kebijakan energi, terutama dalam konteks transisi menuju sistem ketenagalistrikan rendah emisi.

Rencana pembangunan PLTN telah masuk dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang disahkan pada 26 Mei 2025. Dalam dokumen tersebut, pembangkit pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2032 di wilayah Sumatra, diikuti pengembangan tahap berikutnya pada 2033. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional secara berkelanjutan sambil mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Pemerintah Indonesia juga telah menerima berbagai penawaran kerja sama teknologi nuklir dari negara-negara maju, termasuk Rusia, Jerman, Jepang, Korea Selatan, dan Kanada. Salah satu pembahasan terkait kerja sama ini terjadi saat Menteri Bahlil mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Penawaran tersebut mencakup transfer teknologi, pembinaan sumber daya manusia, serta dukungan infrastruktur untuk proyek nuklir di dalam negeri.

Selain itu, Bahlil menekankan perlunya kolaborasi lebih luas dengan lembaga akademik dan organisasi cendekiawan. Ia telah mengundang Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) untuk berpartisipasi aktif dalam forum kebijakan energi dan hilirisasi. Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada energi nuklir, tetapi juga meluas ke 28 program hilirisasi di sektor mineral, batu bara, migas, perikanan, kehutanan, dan pertanian, yang menjadi bagian dari transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya