Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Banjir Bandang Ancam Nepal Akibat Bendungan Alami Meluap

Bendungan alami di wilayah perbatasan Nepal-China mulai meluap, mengancam banjir bandang dan tanah longsor, dengan volume air mencapai 2,5 juta kubik, memperparah risiko bagi tim penyelamat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.48 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Banjir Bandang Ancam Nepal Akibat Bendungan Alami Meluap
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bendungan alami yang terbentuk dari pertemuan sungai di kawasan perbatasan Nepal dan Tiongkok mulai mengalami peningkatan volume air secara signifikan sejak pagi hari Jumat (28/8), mengancam terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Nepal. Volume air yang telah mencapai 2,5 juta kubik melebihi kapasitas penampungan awal sebesar 2 juta kubik, memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan penduduk dan operasi pencarian serta penyelamatan di daerah rawan.

Tim penyelamat dari Tiongkok, yang beroperasi di dekat desa Gyirong, kini menunggu di lokasi strategis beberapa kilometer dari perbatasan untuk menilai kondisi terkini. Video yang beredar menunjukkan aliran air deras yang mengangkut batuan besar, menandakan potensi kerusakan struktural pada bendungan alami. Kondisi tersebut membuat operasi evakuasi dan pencarian terhambat karena risiko longsor sekunder yang terus terjadi di sekitar area penghalang.

Pejabat tinggi distrik Rasuwa di Nepal mengonfirmasi telah menerima informasi dari otoritas Tiongkok mengenai kondisi danau yang meluap. Salah satu anggota tim penyelamat dari Pangkalan Teknik Anneng di Lhasa, Chen, menyatakan bahwa tanah dan batuan di sekitar danau kini sangat gembur. Ia menekankan bahwa terjadi beberapa kali longsor sekunder saat tim melakukan penilaian, memaksa pihak berwenang untuk siaga penuh dan siap mundur jika terdeteksi pergeseran signifikan.

Kondisi cuaca yang terus memburuk dengan hujan deras menjadi faktor utama yang memperparah ancaman. Peneliti dari Stimson Center, Austin Lord, menyoroti bahwa para ahli kini memantau dua danau penghalang, termasuk satu yang terbentuk di bawah retakan gletser. Ia menegaskan bahwa meskipun kemungkinan jebolnya danau bisa memicu banjir kecil di jalur aliran yang sama, skala bencana tidak akan mencapai tingkat kejadian sebelumnya. Namun, risiko terhadap tim penyelamat yang beroperasi di koridor sungai tetap tinggi.

Tantangan utama dalam beberapa hari ke depan adalah peningkatan volume air akibat curah hujan yang terus berlanjut. Jika tidak ada penurunan cuaca, risiko kegagalan bendungan alami akan meningkat, yang dapat memicu dampak serius terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat di sepanjang aliran sungai.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya