Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Banjir Nepal Picu Kerugian Rp45 Triliun, Ribu Orang Masih Hilang

Banjir bandang akibat longsoran gletser di Nepal menyebabkan kerugian mencapai Rp45 triliun dan menewaskan lebih dari 1.250 orang, dengan lebih dari 4.200 orang masih hilang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 17.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Banjir Nepal Picu Kerugian Rp45 Triliun, Ribu Orang Masih Hilang
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bencana banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal dengan China pada 26 Agustus 2026 telah menimbulkan kerusakan luas pada infrastruktur, perumahan, dan fasilitas publik. Berdasarkan estimasi awal, kerugian total diperkirakan mencapai 387,5 miliar rupee Nepal, setara sekitar Rp45 triliun. Angka ini masih dalam tahap penilaian awal dan akan diperbarui seiring penyebaran data dari berbagai departemen terkait.

Kepala Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal, Dharma Raj Upreti, menyatakan bahwa dana sekitar US$52,6 juta atau setara Rp925 miliar akan dibutuhkan dalam empat bulan pertama pemulihan. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun kembali jalan, menyiapkan tempat penampungan sementara, menyediakan air bersih, serta memulihkan pasokan listrik di daerah terdampak.

Sebanyak 7.500 rumah dilaporkan hancur total, sementara sekitar 20.000 unit perlu dibangun kembali sebagai bagian dari program rekonstruksi jangka panjang. Bencana ini dipicu oleh longsoran gletser yang mengakibatkan aliran es, batu, dan lumpur menghantam Sungai Trishuli, menghancurkan sejumlah kota dan desa di sekitarnya.

Korban jiwa telah mencapai lebih dari 1.250 orang, sementara jumlah orang yang masih dinyatakan hilang mencapai lebih dari 4.200. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat aman, menghadapi kondisi kemanusiaan yang kritis. Pemerintah kini fokus pada penilaian mendalam untuk menentukan skala dan prioritas pemulihan secara menyeluruh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya