Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Belanda Pindahkan 86 Ton Emas ke Inggris untuk Hadapi Ketidakpastian Global

Bank Sentral Belanda memindahkan 86 ton emas dari AS dan Kanada ke London sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan keuangan di tengah ketegangan geopolitik dan perang dagang.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 17.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Belanda Pindahkan 86 Ton Emas ke Inggris untuk Hadapi Ketidakpastian Global
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Bank Sentral Belanda (DNB) telah menyelesaikan operasi pemindahan cadangan emas seberat 86 ton dari fasilitas penyimpanan di Amerika Serikat dan Kanada ke Inggris. Langkah ini dilakukan secara bertahap selama beberapa bulan dan melibatkan pengangkutan fisik serta transaksi jual-beli emas tanpa melebur batangan, guna meminimalkan risiko dalam proses relokasi. Emas hasil pemindahan kini disimpan di Bank of England, yang dikenal sebagai pusat penyimpanan logam mulia paling likuid di dunia.

Pemindahan ini dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap ketidakstabilan geopolitik, terutama dalam konteks ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada yang melibatkan kebijakan tarif besar-besaran. Dalam pernyataan resmi, Presiden DNB Olaf Sleijpen menegaskan bahwa langkah tersebut bertujuan memperkuat kesiapan dan ketahanan finansial Belanda dalam menghadapi risiko eksternal yang mungkin muncul di masa depan.

Dari total cadangan emas Belanda sebesar 612,4 ton pada akhir 2025, sebelumnya 31,3 persen disimpan di New York dan 19,7 persen di Ottawa. Setelah pemindahan, proporsi tersebut turun menjadi masing-masing 18,5 persen. Sementara itu, pangsa emas di London naik signifikan dari 18,1 persen menjadi 32,1 persen, menunjukkan pergeseran strategis dalam distribusi aset. Sisa cadangan tetap disimpan di Belanda sebesar 30,8 persen.

DNB menilai bahwa emas yang berada di London lebih mudah diakses dan diperdagangkan dalam kondisi krisis dibandingkan jika masih berada di wilayah yang terdampak ketegangan politik atau perang dagang. Dengan memanfaatkan likuiditas tinggi di pasar London, Belanda memastikan ketersediaan aset strategis dalam situasi darurat. Keputusan ini menunjukkan komitmen kuat terhadap stabilitas keuangan jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya