BI Rate Berpotensi Naik Jika Rupiah Terus Melemah
Ekonom memprediksi BI bisa menaikkan suku bunga acuan hingga 6% akhir 2026 jika tekanan depresiasi rupiah berlanjut dan inflasi mulai meningkat.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 23.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada kuartal keempat tahun ini semakin terbuka, terutama jika pelemahan nilai tukar rupiah tidak kunjung berhenti. Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa penguatan posisi The Fed dalam kebijakan moneter global memperkuat alasan BI untuk mempertimbangkan kenaikan BI Rate. Ia memperkirakan tingkat suku bunga akhir 2026 bisa mencapai 6%, setelah merevisi perkiraan sebelumnya dengan menambahkan 25 basis poin.
Pemicu utama kenaikan tersebut bukan sekadar meniru kebijakan Federal Reserve, melainkan respons terhadap dinamika eksternal yang memengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Faktor seperti selisih suku bunga antar negara, arus modal keluar, kenaikan harga komoditas impor, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi pertimbangan krusial. Jika rupiah terus melemah, maka risiko inflasi yang lebih tinggi akan semakin nyata, mendorong BI untuk mengambil langkah antisipatif.
Namun, BI tetap memiliki ruang untuk menahan kenaikan jika kondisi terkendali. Jika pelemahan rupiah bersifat sementara, inflasi tetap terkendali, dan intervensi pasar valuta asing berjalan efektif, kebijakan moneter bisa tetap netral. Namun, bila tekanan terhadap kurs terus berlanjut, disertai lonjakan harga minyak dunia dan arus modal keluar yang membesar, maka kenaikan 25 basis poin akan menjadi langkah yang konsisten untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Dari sisi lain, pakar dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa momentum kenaikan BI Rate akan meningkat jika depresiasi rupiah terjadi lebih cepat, arus modal keluar memperbesar, dan ekspektasi inflasi mulai terganggu. Ia menekankan bahwa keputusan BI harus berbasis pada kondisi dalam negeri dan efektivitas kebijakan stabilisasi, bukan hanya respons terhadap tekanan luar.
Keputusan akhir tetap berada di tangan BI, yang harus menyeimbangkan antara menjaga daya beli masyarakat, menekan biaya produksi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Menaikkan suku bunga bisa menekan kredit dan aktivitas investasi, sementara pelemahan kurs yang berkepanjangan justru menggerus daya beli dan meningkatkan beban biaya impor. Kedua risiko ini menuntut kebijakan yang cermat dan tepat waktu.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Agen AI OpenAI Coba Akses Situs Pemerintah AS
OpenAI mengakui agen kecerdasan buatan mereka melakukan akses tak sah ke tiga situs pemerintah AS, termasuk Departemen Perdagangan dan SEC, dalam upaya penelitian yang melampaui batas kontrol.
29 September 2026

Pertagas Diminta Percepat Jargas untuk Kurangi Impor LPG
Kepala BP BUMN dorong Pertagas bangun jargas nasional sebagai solusi turunkan subsidi dan hemat devisa dari impor LPG.
29 September 2026

Pemerintah AS Pertimbangkan Perluasan Solar Merah untuk Tekan Harga BBM
Pemerintah AS sedang mengevaluasi perluasan penggunaan solar merah sebagai respons terhadap lonjakan harga bahan bakar di tengah tekanan menjelang pemilu sela.
29 September 2026

IHSG Terpuruk di Sesi I, Tekanan Global dan Aliran Asing Jadi Penyebab
Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,21% ke level 6.135 pada sesi I, didorong koreksi global, volatilitas tinggi, dan aksi jual asing selektif.
29 September 2026
Berita Lainnya

KPK Perluas Penyelidikan ke Pengembang Swasta Terkait Kasus ATR/BPN
Selasa, 29 September 2026, 23.26 WITA

Makanan Terbuang Picu Pemanasan Global, Solusi di Tataran Kebijakan
Selasa, 29 September 2026, 23.07 WITA

ATSI Sebut Penerapan Portabilitas Nomor Butuh Waktu Panjang
Selasa, 29 September 2026, 23.07 WITA

150 Ton Emas Ilegal Beredar di Indonesia
Selasa, 29 September 2026, 23.06 WITA

Target Zero ODOL 2027, 16 Alat Deteksi Baru Siap Dipasang
Selasa, 29 September 2026, 23.06 WITA

Indonesia Tangguh Hadapi Guncangan Global, Tumbuh 5,4% di 2026
Selasa, 29 September 2026, 23.06 WITA

Penipuan Investasi Digital Rp3,19 Triliun Dibongkar Polisi Jatim
Selasa, 29 September 2026, 23.06 WITA

Gangster Berebut Emas Ilegal, 18 Tewas di Desa Tambang
Selasa, 29 September 2026, 23.05 WITA

