Rabu, 30 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Rate Berpotensi Naik Jika Rupiah Terus Melemah

Ekonom memprediksi BI bisa menaikkan suku bunga acuan hingga 6% akhir 2026 jika tekanan depresiasi rupiah berlanjut dan inflasi mulai meningkat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 23.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
BI Rate Berpotensi Naik Jika Rupiah Terus Melemah📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada kuartal keempat tahun ini semakin terbuka, terutama jika pelemahan nilai tukar rupiah tidak kunjung berhenti. Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa penguatan posisi The Fed dalam kebijakan moneter global memperkuat alasan BI untuk mempertimbangkan kenaikan BI Rate. Ia memperkirakan tingkat suku bunga akhir 2026 bisa mencapai 6%, setelah merevisi perkiraan sebelumnya dengan menambahkan 25 basis poin.

Pemicu utama kenaikan tersebut bukan sekadar meniru kebijakan Federal Reserve, melainkan respons terhadap dinamika eksternal yang memengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Faktor seperti selisih suku bunga antar negara, arus modal keluar, kenaikan harga komoditas impor, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi pertimbangan krusial. Jika rupiah terus melemah, maka risiko inflasi yang lebih tinggi akan semakin nyata, mendorong BI untuk mengambil langkah antisipatif.

Namun, BI tetap memiliki ruang untuk menahan kenaikan jika kondisi terkendali. Jika pelemahan rupiah bersifat sementara, inflasi tetap terkendali, dan intervensi pasar valuta asing berjalan efektif, kebijakan moneter bisa tetap netral. Namun, bila tekanan terhadap kurs terus berlanjut, disertai lonjakan harga minyak dunia dan arus modal keluar yang membesar, maka kenaikan 25 basis poin akan menjadi langkah yang konsisten untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Dari sisi lain, pakar dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menegaskan bahwa momentum kenaikan BI Rate akan meningkat jika depresiasi rupiah terjadi lebih cepat, arus modal keluar memperbesar, dan ekspektasi inflasi mulai terganggu. Ia menekankan bahwa keputusan BI harus berbasis pada kondisi dalam negeri dan efektivitas kebijakan stabilisasi, bukan hanya respons terhadap tekanan luar.

Keputusan akhir tetap berada di tangan BI, yang harus menyeimbangkan antara menjaga daya beli masyarakat, menekan biaya produksi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Menaikkan suku bunga bisa menekan kredit dan aktivitas investasi, sementara pelemahan kurs yang berkepanjangan justru menggerus daya beli dan meningkatkan beban biaya impor. Kedua risiko ini menuntut kebijakan yang cermat dan tepat waktu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya