Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Terpuruk di Sesi I, Tekanan Global dan Aliran Asing Jadi Penyebab

Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,21% ke level 6.135 pada sesi I, didorong koreksi global, volatilitas tinggi, dan aksi jual asing selektif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 23.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
IHSG Terpuruk di Sesi I, Tekanan Global dan Aliran Asing Jadi Penyebab📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan kecenderungan melemah di sesi perdagangan pertama hari ini, Selasa (29/9/2026), dengan pelemahan mencapai 12,86 poin atau 0,21% ke posisi 6.135. Puncak penurunan terjadi saat indeks sempat menyentuh level terendah hingga turun hingga 2% sebelum memperbaiki posisi sedikit di akhir sesi. Pergerakan tersebut terjadi di tengah kondisi pasar yang dinamis dan penuh ketidakpastian, dengan volatilitas yang tinggi memengaruhi kepercayaan investor.

Sebanyak 451 saham tercatat melemah, sementara hanya 250 saham yang mampu menguat, menunjukkan dominasi tekanan jual di pasar. Di sisi lain, data dari laporan riset menunjukkan aliran modal asing di pasar reguler mencatatkan net sell sebesar Rp365,88 miliar, dengan nilai jual mencapai Rp2,99 triliun dan beli sebesar Rp2,62 triliun. Aksi jual terbesar terjadi pada saham ADMF, BMRI, BBCA, TLKM, dan ADRO, sementara pembelian terbesar terjadi pada BBRI, TPIA, ASII, EMAS, dan DSSA, menunjukkan pola rotasi asing yang selektif, bukan penjualan menyeluruh.

Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa koreksi IHSG masih sesuai dengan pola teknikal yang menunjukkan tren turun. Ia menekankan bahwa sentimen pasar global dan regional saat ini cenderung terkoreksi, yang turut memengaruhi pergerakan pasar domestik. Ia memperkirakan level support IHSG berada di 6.041, sementara resistance terletak di 6.196, area yang akan menjadi patokan penting dalam menilai arah pergerakan selanjutnya.

Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas menyoroti pentingnya level 6.000 sebagai penentu arah pasar. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang rebound teknis menuju area gap 6.240 masih terbuka, dengan resistance berikutnya di kisaran 6.300–6.400. Namun, rebound ini belum menandakan pembalikan tren utama. Jika level 6.000 berhasil ditembus, risiko pelemahan lebih dalam menuju support Fibonacci di 5.854 perlu diwaspadai.

Pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kenaikan harga minyak mentah ke kisaran US$93–99 per barel, yield obligasi AS tenor 10 tahun yang berada di 5,24%, serta indeks DXY di level 101. Volume perdagangan mencapai 231 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp7,34 triliun, sementara rentang pergerakan harian mencapai 137 poin, menunjukkan tingginya ketegangan pasar. Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada konfirmasi pergerakan harga, kenaikan volume, perbaikan breadth pasar, serta perkembangan sentimen global dan nilai tukar rupiah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya