Selasa, 29 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Makanan Terbuang Picu Pemanasan Global, Solusi di Tataran Kebijakan

Pemborosan pangan di berbagai tahap rantai pasok berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, mempercepat krisis iklim global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 29 September 2026, 23.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Makanan Terbuang Picu Pemanasan Global, Solusi di Tataran Kebijakan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Setiap helai nasi yang tidak dimakan, setiap sayur yang membusuk di kulkas, atau setiap porsi makanan berlebih yang dibuang, sejatinya membawa dampak lingkungan yang besar. Proses produksi, pengolahan, distribusi, hingga penyimpanan makanan mengonsumsi sumber daya alam yang melimpah—mulai dari lahan, air, pupuk, hingga energi. Ketika makanan akhirnya terbuang, semua investasi tersebut terbuang sia-sia, sementara emisi karbon yang dihasilkan tetap mengancam atmosfer. Dalam konteks global, data dari FAO menunjukkan bahwa susut dan sisa pangan menyumbang sekitar sepertiga dari total emisi gas rumah kaca, mencapai angka 10 persen secara keseluruhan.

Di tempat pembuangan akhir (TPA), sisa makanan yang terkubur dalam kondisi tanpa oksigen mengalami dekomposisi anaerobik, menghasilkan metana—gas rumah kaca yang lebih berdampak daripada karbon dioksida hingga lebih dari 80 kali lipat dalam periode 20 tahun. Ini menjadikan sampah organik sebagai salah satu penyumbang utama pemanasan global, meskipun sering diabaikan dalam pembahasan kebijakan lingkungan. Menurut laporan UNEP 2024, sekitar 1,05 miliar ton makanan dibuang setiap tahun di tingkat rumah tangga, layanan makanan, dan ritel, setara dengan 19 persen dari total pangan yang tersedia untuk konsumsi.

Di Indonesia, persoalan ini telah berlangsung lama dan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan kajian Bappenas 2021, setiap tahun rumah tangga menghasilkan 115 hingga 184 kilogram pangan terbuang. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi 61 hingga 125 juta orang—setara dengan sekitar 30 persen populasi nasional. Data dari periode 2000–2019 menunjukkan tingkat pemborosan tertinggi pada produk pertanian seperti sayuran (62,8 persen), buah-buahan (45,5 persen), daging (30,7 persen), dan ikan (29,9 persen), yang mencerminkan ketidakseimbangan dalam distribusi dan konsumsi.

Untuk menangani persoalan ini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah menjadi sorotan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkirakan potensi sisa pangan dari MBG di sekolah mencapai 1,1 hingga 1,4 juta ton per tahun, dengan sekitar 451 ribu hingga 603 ribu ton masih layak diselamatkan dan didistribusikan kembali. Badan Gizi Nasional (BGN), sebagai pelaksana program, menekankan perlunya perencanaan menu yang lebih akurat dan efisien untuk meminimalkan pemborosan. Menurut Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati, pengurangan sisa makanan bukan hanya soal hemat anggaran, tetapi juga upaya strategis menekan beban lingkungan dari limbah pangan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya