Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

BI Tangani Tekanan Rupiah di Tengah Tanda Tanya Global

Bank Indonesia menegaskan upaya stabilisasi rupiah di tengah depresiasi ke level Rp17.900/US$, dipicu ekspektasi kebijakan moneter AS dan lonjakan yield obligasi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 15.31 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
BI Tangani Tekanan Rupiah di Tengah Tanda Tanya Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan pada perdagangan 24 September 2026, melemah hingga 0,59% ke posisi Rp17.900 per dolar AS. Penguatan dolar AS tercatat sejak pembukaan pasar, dengan rupiah turun 65 poin dari level pembukaan Rp17.835. Penurunan ini menjadi refleksi dari kombinasi faktor global dan domestik yang saling memperkuat tekanan terhadap mata uang nasional.

Pemicu utama berasal dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS, yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga menyentuh 5,11%—level tertinggi sejak 2007. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset dolar AS dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memperburuk sentimen pasar, menyebabkan harga minyak Brent melonjak di atas US$100 per barel.

Dari dalam negeri, permintaan valuta asing oleh importir meningkat menjelang akhir kuartal III, menambah tekanan terhadap pasokan valas. Sementara itu, arus keluar modal dari pasar emerging markets turut memperparah pergerakan rupiah. BI menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamental ekonomi, dengan memperkuat mekanisme pasar melalui operasi moneter yang lebih pro-market.

Untuk menopang likuiditas valas, BI memperluas insentif swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) bagi pelaku ekonomi yang membutuhkan pendanaan luar negeri. Skema ini kini mencakup arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, serta investasi asing langsung. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi spot, DNDF domestik, NDF offshore, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Kendati mengalami tekanan, BI menilai pergerakan rupiah masih selaras dengan mata uang negara lain di kawasan. Secara kuartal, rupiah menguat 0,46% hingga akhir September. Di sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa tercatat mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, menunjukkan posisi yang cukup kuat. Dengan bauran kebijakan yang terus dioptimalkan, BI menekankan komitmen menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali dalam kondisi volatilitas global yang meningkat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya