Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Biaya Produksi Pangan Indonesia Masih Tinggi, Zulhas Soroti Ketergantungan Bibit Impor

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyoroti disparitas biaya produksi beras dan tebu antara Indonesia dengan tetangga seperti Vietnam dan India, sekaligus menekankan urgensi perbaikan sistem pertanian nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 16.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Biaya Produksi Pangan Indonesia Masih Tinggi, Zulhas Soroti Ketergantungan Bibit Impor
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengungkapkan bahwa biaya produksi beras di Indonesia mencapai Rp12 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam yang hanya membutuhkan Rp3.800 per kilogram. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Zulkifli Hasan dalam acara peluncuran buku yang mengangkat isu pangan berkelanjutan di Jakarta. Ia menekankan bahwa perbedaan tersebut bukan semata soal harga, melainkan cerminan dari ketertinggalan dalam teknologi, pengelolaan lahan, dan penggunaan varietas unggul.

Tidak hanya beras, keterbelakangan juga terjadi pada komoditas lain seperti tebu. Di Lumajang, biaya produksi tebu mencapai Rp14 ribu per kilogram, sementara di India dan Brasil hanya sekitar Rp4 ribu. Zulhas menilai disparitas ini mengancam daya saing produk pertanian nasional, terlebih saat Indonesia masih bergantung pada bibit impor untuk sebagian besar tanaman pangan.

Ia mencontohkan produksi kedelai, di mana produktivitas di Indonesia hanya mencapai 1 ton per hektare karena keterbatasan varietas unggul. Di negara yang telah mengadopsi rekayasa genetik, produktivitas bisa mencapai 10 ton per hektare, sehingga harga kedelai dalam negeri menjadi tiga hingga empat kali lebih mahal. Kondisi ini berdampak langsung pada akses masyarakat terhadap pangan bergizi, terutama di wilayah dengan pendapatan rendah seperti NTT dan Papua.

Zulhas juga menyampaikan bahwa tingkat pendapatan per kapita Indonesia masih di bawah US$5.000, jauh di bawah Thailand yang telah mencapai US$8.000. Di tengah pendapatan yang rendah, masyarakat justru harus membayar pangan dengan harga lebih tinggi, yang berpotensi mengganggu kesehatan dan pertumbuhan generasi muda. Ia menekankan bahwa keberhasilan program swasembada pangan harus dilakukan secara bertahap, mulai dari beras dan jagung, kemudian menyusul gula, garam, ikan, dan daging.

Pada sektor perikanan, pemerintah menghadapi tantangan ketersediaan bibit dan pakan dalam program pengembangan 40 ribu kawasan tematik. Meskipun lahan dan air tersedia di berbagai daerah, keberlanjutan budidaya masih terhambat karena ekosistem pendukung belum terbangun secara utuh. Zulhas menegaskan bahwa perbaikan sistem pangan bukan hanya soal hasil produksi, tetapi juga soal keseluruhan ekosistem yang harus diperkuat secara menyeluruh.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya