Blokade Ekonomi AS Dinilai Lebih Mahal bagi Washington
IRGC menegaskan sanksi ekonomi terhadap Iran justru membebani AS secara lebih berat, mengingat beban utang dan persaingan global yang kian membebani keuangan negara.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 19.46 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 16x dibuka
📷 ANTARAKendari, ıNarasikita - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyoroti bahwa strategi blokade ekonomi dan maritim yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Teheran justru berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang jauh lebih besar bagi Washington dibandingkan dampaknya terhadap Iran. Menurut juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohibi, setiap dolar kerugian yang ditargetkan terhadap ekonomi Iran harus dibayar dengan biaya beberapa kali lipat oleh AS, mencerminkan ketidakefektifan pendekatan tersebut.
Mohibi menekankan bahwa Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan eksternal, meskipun AS sebelumnya percaya dapat memaksa Teheran menyerah melalui superioritas militer, termasuk armada laut dan kapal induk. Namun, perkembangan terkini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut gagal memengaruhi kebijakan Iran, bahkan justru memperkuat ketahanan ekonomi dan strategis negara.
Ia menyebut bahwa Amerika kini menghadapi tekanan besar dari utang nasional yang membengkak serta persaingan ekonomi yang ketat, terutama dengan China. Dalam konteks ini, melanjutkan perang ekonomi melawan Iran dipandang tidak praktis, karena dapat memperburuk kondisi fiskal dan mengganggu stabilitas pasar global. Gangguan terhadap produksi dan ekspor aluminium di kawasan, serta penurunan akses terhadap sumber daya strategis, juga menunjukkan efek balik dari kebijakan blokade.
Mohibi menegaskan bahwa tekanan ekonomi bukan jaminan kemenangan, terlebih jika diterapkan tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Konflik yang muncul sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu, diikuti balasan Iran terhadap sasaran militer AS dan Israel, memperuncing ketegangan maritim di Selat Hormuz. Di tengah itu, AS memperketat sanksi terhadap sektor minyak, pelayaran, penerbangan, teknologi, dan keuangan Iran, yang disebut oleh pejabat Iran sebagai bentuk perang ekonomi dan blokade.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sekjen D-8 tegaskan peran strategis negara anggota dalam menjaga stabilitas global dan memperkuat kerja sama ekonomi melalui transformasi hijau dan digital.
24 Oktober 2026

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Monako meraih posisi teratas dalam indeks tempat tinggal terbaik dunia 2026 berdasarkan evaluasi lima aspek kunci, termasuk kualitas hidup dan keamanan.
24 Oktober 2026

Gajian Jadi Waktu Tepat, Transmart Gelar Diskon Besar-besaran
Transmart menggelar Full Day Sale pada 25 Oktober 2026 dengan diskon hingga 50% + 20% khusus pemegang kartu kredit Bank Mega, Mega Syariah, dan Mandiri.
24 Oktober 2026

Kipas Angin Lokal Dominan, Komponen Impor dari China
Di Glodok, Jakarta Barat, mayoritas kipas angin merek lokal dirakit dalam negeri, tetapi sebagian besar komponennya berasal dari China, didukung harga kompetitif dan kebutuhan industri.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

