Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Blokade Ekonomi AS Dinilai Lebih Mahal bagi Washington

IRGC menegaskan sanksi ekonomi terhadap Iran justru membebani AS secara lebih berat, mengingat beban utang dan persaingan global yang kian membebani keuangan negara.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 6 September 2026, 19.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Blokade Ekonomi AS Dinilai Lebih Mahal bagi Washington
Foto: ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyoroti bahwa strategi blokade ekonomi dan maritim yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Teheran justru berpotensi menimbulkan kerugian finansial yang jauh lebih besar bagi Washington dibandingkan dampaknya terhadap Iran. Menurut juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohibi, setiap dolar kerugian yang ditargetkan terhadap ekonomi Iran harus dibayar dengan biaya beberapa kali lipat oleh AS, mencerminkan ketidakefektifan pendekatan tersebut.

Mohibi menekankan bahwa Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan eksternal, meskipun AS sebelumnya percaya dapat memaksa Teheran menyerah melalui superioritas militer, termasuk armada laut dan kapal induk. Namun, perkembangan terkini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut gagal memengaruhi kebijakan Iran, bahkan justru memperkuat ketahanan ekonomi dan strategis negara.

Ia menyebut bahwa Amerika kini menghadapi tekanan besar dari utang nasional yang membengkak serta persaingan ekonomi yang ketat, terutama dengan China. Dalam konteks ini, melanjutkan perang ekonomi melawan Iran dipandang tidak praktis, karena dapat memperburuk kondisi fiskal dan mengganggu stabilitas pasar global. Gangguan terhadap produksi dan ekspor aluminium di kawasan, serta penurunan akses terhadap sumber daya strategis, juga menunjukkan efek balik dari kebijakan blokade.

Mohibi menegaskan bahwa tekanan ekonomi bukan jaminan kemenangan, terlebih jika diterapkan tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Konflik yang muncul sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu, diikuti balasan Iran terhadap sasaran militer AS dan Israel, memperuncing ketegangan maritim di Selat Hormuz. Di tengah itu, AS memperketat sanksi terhadap sektor minyak, pelayaran, penerbangan, teknologi, dan keuangan Iran, yang disebut oleh pejabat Iran sebagai bentuk perang ekonomi dan blokade.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya