Cabai Rawit Meroket, Pemerintah Dorong Mobilisasi Pasokan
Harga cabai rawit nasional melonjak hingga Rp77.596 per kg, melampaui batas atas HAP, memicu intervensi distribusi dari sentra produksi Jawa ke wilayah timur.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 09.04 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Harga cabai rawit pada minggu ketiga September 2026 mencapai Rp77.596 per kilogram, naik signifikan 29,85 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini jauh melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) batas atas sebesar Rp57.000 per kg, dan tercatat terjadi di 265 kabupaten/kota secara nasional. Beberapa daerah seperti Halmahera Timur, Halmahera Utara, dan Gorontalo Utara bahkan mencatat harga mencapai lebih dari Rp140.000 per kg, menunjukkan disparitas harga yang tajam antarwilayah.
Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa produksi cabai rawit nasional pada periode tersebut diperkirakan mencapai 132.926 ton, dengan dominasi sekitar 79 persen berasal dari Pulau Jawa. Meski pasokan cukup besar secara nasional, perbedaan harga antara tingkat petani dan pasar, khususnya di ibu kota, menunjukkan adanya ketimpangan distribusi. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan menyatakan bahwa selisih harga yang tinggi mengindikasikan spekulasi pasar yang perlu diwaspadai.
Untuk menangani ketimpangan tersebut, pemerintah mempersiapkan strategi intervensi harga melalui mobilisasi pasokan dari sentra produksi utama seperti Malang, Sampang, dan Lombok Timur. Daerah-daerah ini telah disiapkan sebagai “petani champion” yang siap menyalurkan cabai jika diperlukan. Khususnya, pasokan dari Jawa Timur dikirim secara khusus ke wilayah Sulawesi Utara, termasuk Manado, sebagai bentuk penyesuaian distribusi untuk menekan kenaikan harga.
Bapanas menegaskan bahwa tantangan utama bukan pada ketersediaan stok nasional—yang diproyeksikan mencapai 60.280 ton hingga akhir tahun—melainkan pada distribusi yang tidak merata. Sejauh ini, telah dilakukan pengiriman cabai dari Jawa Timur ke Manado sebanyak 4,9 ton dalam dua tahap, pada 14 dan 20 September. Pola ini akan terus dimaksimalkan dengan mempertimbangkan perbedaan harga antarwilayah sebagai acuan utama dalam menentukan arah distribusi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Pemerintah Raih Rp29,7 T dari Penjualan Sukuk Ritel SR025
Penjualan sukuk ritel SR025 mencatat rekor baru dengan dana masuk Rp29,7 triliun dari 93.548 investor, didominasi milenial dan perempuan.
22 September 2026

Pemerintah Siapkan Lahan 1–2 Juta Ha untuk Etanol Dorong Swasembada Energi 2029
Pemerintah menyiapkan 1–2 juta hektare lahan untuk tanaman tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku etanol guna mencapai E20 pada 2029 dan kurangi ketergantungan impor energi.
22 September 2026

Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini
Menteri Pertanian menegaskan harga beras akan turun dalam pekan ini berkat peningkatan pasokan dan penertiban beras fortifikasi yang tidak sesuai standar.
21 September 2026

Pemerintah Siapkan E50-B50 untuk Hemat Devisa Rp500 Triliun Tahunan
Penerapan bahan bakar nabati E50 dan B50 ditargetkan menghemat devisa hingga Rp500 triliun per tahun melalui pengurangan impor energi.
21 September 2026
Berita Lainnya

Padel Jadi Pilihan Olahraga Modern di Kota
Selasa, 22 September 2026, 09.30 WITA

Etomidate dalam Vape: Bahaya Anestesi Ilegal yang Mengancam Jiwa
Selasa, 22 September 2026, 09.29 WITA

Vape Berisi Etomidate Mengancam Jiwa, BPOM Siap Bantu Penyelidikan
Selasa, 22 September 2026, 09.29 WITA

Kucing Menjilat Sesama, Bisa Jadi Bentuk Kekerasan Tersembunyi
Selasa, 22 September 2026, 09.17 WITA

EV Naik, Industri Suku Cadang Tetap Menguntungkan
Selasa, 22 September 2026, 09.15 WITA

Aman Naik Taksi Online Malam Hari, Ini Langkah Praktisnya
Selasa, 22 September 2026, 09.07 WITA

80 Pejuang Houthi Tewas dalam Pertempuran Sengit di Marib
Selasa, 22 September 2026, 09.05 WITA

Insentif Motor Listrik Tertunda, Industri Minta Kepastian Jangka Panjang
Selasa, 22 September 2026, 09.04 WITA

