Pemerintah Siapkan Lahan 1–2 Juta Ha untuk Etanol Dorong Swasembada Energi 2029
Pemerintah menyiapkan 1–2 juta hektare lahan untuk tanaman tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku etanol guna mencapai E20 pada 2029 dan kurangi ketergantungan impor energi.
Redaksi iNarasikita·Selasa, 22 September 2026, 09.01 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah mempersiapkan pembukaan lahan baru seluas 1 juta hingga 2 juta hektare untuk mendukung produksi etanol sebagai bagian dari program diversifikasi energi nasional. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mewujudkan bauran bahan bakar fosil berbasis etanol sebesar E20 pada tahun 2029. Menteri Pertanian menegaskan bahwa pengembangan lahan akan dilakukan secara bertahap dan berbasis pada ketersediaan lahan yang telah dilepaskan atau tidak menjadi kawasan hutan lindung.
Pengembangan komoditas strategis seperti tebu, singkong, dan jagung akan menjadi fokus utama, dengan tebu membutuhkan lahan terbesar sekitar 1 juta hektare. Pemerintah akan melakukan seleksi terhadap lahan yang sudah tersedia, termasuk area yang direncanakan untuk agroforestri, tanaman pangan, dan lahan bekas alih fungsi yang telah dilepaskan. Proses ini menekankan prinsip pelestarian lingkungan, di mana pembukaan kawasan hutan hanya menjadi opsi terakhir.
Dukungan teknis berupa alat dan mesin pertanian akan diberikan, serta dilakukan uji coba penanaman jagung di beberapa wilayah. Dalam hal pembiayaan, pemerintah akan memprioritaskan partisipasi BUMN, dengan komposisi yang dapat mencapai 30 hingga 50 persen, sisanya diisi oleh sektor swasta. Keberadaan lahan yang jelas menjadi syarat penting agar investasi pabrik etanol dapat berjalan efektif, mengacu pada pengalaman pembangunan pabrik gula yang membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun jika penyiapan lahan didukung penuh oleh pemerintah.
Program akan dilaksanakan secara bertahap, mulai dari E5, dilanjutkan E10, dan ditargetkan mencapai E20 pada 2029. Setelah itu, pemerintah memperkirakan potensi peningkatan hingga E40 pada 2030 atau 2031. Dengan implementasi penuh, program ini diharapkan mampu menghemat devisa hingga sekitar US$30 miliar atau setara Rp500 triliun per tahun serta menciptakan sekitar 8 juta lapangan kerja permanen. Manfaat ekonomi akan menyebar ke petani melalui peningkatan produksi komoditas energi terbarukan.
Pengelolaan program akan melibatkan pemerintah daerah, kementerian, dan lembaga terkait, dengan konsolidasi awal telah dilakukan bersama Kementerian Kehutanan dan BUMN. Tujuan utamanya adalah menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mewujudkan kemandirian energi nasional. Tahap awal penyiapan lahan telah dimulai, dengan harapan penanaman dapat dimulai dalam tahun ini, meskipun sebelumnya disebutkan target dimulai pada tahun depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Cabai Rawit Meroket, Pemerintah Dorong Mobilisasi Pasokan
Harga cabai rawit nasional melonjak hingga Rp77.596 per kg, melampaui batas atas HAP, memicu intervensi distribusi dari sentra produksi Jawa ke wilayah timur.
22 September 2026

Pemerintah Raih Rp29,7 T dari Penjualan Sukuk Ritel SR025
Penjualan sukuk ritel SR025 mencatat rekor baru dengan dana masuk Rp29,7 triliun dari 93.548 investor, didominasi milenial dan perempuan.
22 September 2026

Harga Beras Diproyeksikan Turun Pekan Ini
Menteri Pertanian menegaskan harga beras akan turun dalam pekan ini berkat peningkatan pasokan dan penertiban beras fortifikasi yang tidak sesuai standar.
21 September 2026

Pemerintah Siapkan E50-B50 untuk Hemat Devisa Rp500 Triliun Tahunan
Penerapan bahan bakar nabati E50 dan B50 ditargetkan menghemat devisa hingga Rp500 triliun per tahun melalui pengurangan impor energi.
21 September 2026
Berita Lainnya

Padel Jadi Pilihan Olahraga Modern di Kota
Selasa, 22 September 2026, 09.30 WITA

Etomidate dalam Vape: Bahaya Anestesi Ilegal yang Mengancam Jiwa
Selasa, 22 September 2026, 09.29 WITA

Vape Berisi Etomidate Mengancam Jiwa, BPOM Siap Bantu Penyelidikan
Selasa, 22 September 2026, 09.29 WITA

Kucing Menjilat Sesama, Bisa Jadi Bentuk Kekerasan Tersembunyi
Selasa, 22 September 2026, 09.17 WITA

EV Naik, Industri Suku Cadang Tetap Menguntungkan
Selasa, 22 September 2026, 09.15 WITA

Aman Naik Taksi Online Malam Hari, Ini Langkah Praktisnya
Selasa, 22 September 2026, 09.07 WITA

80 Pejuang Houthi Tewas dalam Pertempuran Sengit di Marib
Selasa, 22 September 2026, 09.05 WITA

Insentif Motor Listrik Tertunda, Industri Minta Kepastian Jangka Panjang
Selasa, 22 September 2026, 09.04 WITA

