Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Cadev RI Tembus US$146,5 M, Didorong Penerimaan Pajak dan Pinjaman Luar Negeri

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar, naik dari US$145,3 miliar bulan sebelumnya, didorong penerimaan pajak dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 11.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Cadev RI Tembus US$146,5 M, Didorong Penerimaan Pajak dan Pinjaman Luar Negeri
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 mencatatkan angka sebesar US$146,5 miliar, mengalami peningkatan dibandingkan pencapaian bulan sebelumnya yang berada di level US$145,3 miliar. Kenaikan ini terjadi meskipun BI tetap menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan global yang masih tinggi. Peningkatan cadangan tersebut dipengaruhi oleh arus masuk dari penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah.

Dalam keterangan resmi, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa peningkatan cadangan devisa tetap berjalan di tengah beban pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ia menyebut bahwa cadangan devisa saat ini mampu menutup kebutuhan impor selama 5,4 bulan, atau jika dikaitkan dengan pembayaran utang luar negeri, mencapai 5,3 bulan. Angka ini jauh melampaui standar internasional yang disyaratkan sebesar tiga bulan impor, menunjukkan ketahanan eksternal yang kuat.

BI menilai posisi cadangan devisa yang memadai menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional. Dengan cadangan yang berada di atas ambang batas kecukupan, pemerintah dan bank sentral diyakini mampu menyerap tekanan eksternal, termasuk gejolak pasar global. Hal ini juga mendukung kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia, yang tetap menarik karena imbal hasil investasi yang kompetitif.

Peningkatan sinergi antara BI dan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga ketahanan eksternal ke depan. Upaya kolaboratif ini bertujuan untuk memperkuat fondasi perekonomian, menjaga stabilitas nilai tukar, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Denny menegaskan bahwa langkah-langkah strategis yang diambil saat ini menunjukkan kesiapan Indonesia menghadapi tantangan global, sekaligus menjaga kemandirian dan keberlanjutan ekonomi nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya