China Kendalikan Ekspor Tanah Jarang Jelang Pertemuan Puncak AS-China
Sejumlah perusahaan China menahan pengiriman tanah jarang ke AS akibat ketegangan geopolitik, menyusul rencana pertemuan puncak antara Xi Jinping dan Donald Trump.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 01.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Kendari, ıNarasikita - Beberapa produsen mineral tanah jarang asal Tiongkok dikabarkan menahan pengiriman ke Amerika Serikat sejak awal Agustus 2026, menunjukkan kembali ketergantungan strategis AS pada pasokan dari Beijing. Langkah ini muncul di tengah ketegangan yang memanas pasca-penjatuhan sanksi oleh Beijing terhadap Responsible Business Alliance (RBA), lembaga yang mengawasi praktik rantai pasok global. Pemasok Tiongkok khawatir akan terkena konsekuensi jika melanggar aturan ekspor yang ditetapkan pemerintahnya, terutama ketika harus memenuhi standar audit rantai pasok dari Responsible Minerals Initiative (RMI) yang terkait dengan RBA.
Situasi ini terjadi hanya beberapa pekan sebelum rencana pertemuan puncak antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Washington pada 24 September. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pemasok Tiongkok juga menolak pengiriman demi menghindari keterlibatan dalam konflik geopolitik, bahkan dalam kasus tertentu menolak pengiriman karena khawatir barang tersebut akan digunakan oleh pihak yang masuk daftar larangan. Hal ini menambah tekanan pada pasokan mineral strategis global yang masih terbatas, meskipun ekspor tanah jarang mulai pulih setelah pembatasan pada April 2025.
Harga sejumlah bahan baku seperti yttrium, indium fosfida, dan tungsten kini mendekati level tertinggi sepanjang masa. Beberapa perusahaan di AS bahkan dilaporkan telah menunggu lebih dari enam bulan untuk mendapatkan izin ekspor. Ahli strategi geopolitik dari Rhodium Group, Reva Goujon, menilai bahwa kontrol ekspor mineral tanah jarang menjadi alat utama Beijing untuk menekan kebijakan perdagangan dan industri AS, khususnya lembaga Biro Industri dan Keamanan (BIS) di bawah Kementerian Perdagangan.
Meskipun Beijing menyatakan komitmen menjaga kelancaran rantai pasok global, data bea cukai menunjukkan volume ekspor yttrium ke AS masih sekitar separuh tingkat puncak pada 2024. Namun, pada Juli 2026, Tiongkok kembali mengirim 27 ton yttrium ke AS—salah satu jumlah terbesar sejak Januari 2025—setelah sebelumnya tidak ada pengiriman selama dua bulan. Peningkatan ini diperkirakan sebagai respons diplomatis menjelang pertemuan puncak, dengan ekspektasi bahwa izin ekspor akan lebih mudah diperoleh dalam waktu dekat.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Chery AiMoga Ekspor 2.000 Robot ke Lebih dari 60 Negara
Perusahaan robotika AiMoga, kolaborator strategis Chery, telah mengirim lebih dari 2.000 unit robot ke lebih dari 60 negara secara kumulatif, dengan fokus ekspansi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.
8 September 2026

Dampak Ekonomi Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik Bisa Capai Rp100 Miliar
Gangguan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 miliar jika berlangsung lebih dari lima hari tanpa respons cepat dari semua pihak terkait.
8 September 2026

Implementasi E20 Tahun 2028, Pemerintah Percepat Investasi Pabrik Etanol
Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% dalam bensin (E20) mulai berlaku di seluruh Indonesia pada 2028, didukung percepatan pembangunan pabrik dan kebijakan tanpa cukai untuk bioetanol.
8 September 2026

Anggaran Cost Recovery Naik, Produksi Migas Turun: Mekeng Minta Transparansi
Ketua Komisi XII DPR mempertanyakan kenaikan cost recovery yang tak sejalan dengan penurunan produksi migas nasional, menekankan perlunya transparansi dan akuntabilitas atas penggunaan uang negara.
8 September 2026
Berita Lainnya

Wiper Tak Boleh Dinyalakan Saat Kaca Tertutup Abu Vulkanik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Perselisihan Antrean SPKLU Berujung Kekerasan Fisik
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Xiaomi Perkenalkan SUV Skynomad dengan Teknologi EREV di China
Selasa, 8 September 2026, 22.43 WITA

Startup AS Siap Kirim Wahana ke Alpha Centauri dengan Modal Rp265 Miliar
Selasa, 8 September 2026, 22.37 WITA

Purbaya Perkenalkan Skema Pinjaman Infrastruktur Berbasis DBH
Selasa, 8 September 2026, 22.36 WITA

Cukai Bioetanol Dihapus, Ekspektasi Bensin Hijau Capai E20 2028
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Potensi Ekonomi Syariah Capai Rp 343 Triliun
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA

Pemerintah Percepat Penyaluran B50, Targetkan 16,8 Juta KL di 2026
Selasa, 8 September 2026, 22.35 WITA


