Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

China Kendalikan Ekspor Tanah Jarang Jelang Pertemuan Puncak AS-China

Sejumlah perusahaan China menahan pengiriman tanah jarang ke AS akibat ketegangan geopolitik, menyusul rencana pertemuan puncak antara Xi Jinping dan Donald Trump.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 5 September 2026, 01.46 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
China Kendalikan Ekspor Tanah Jarang Jelang Pertemuan Puncak AS-China
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Beberapa produsen mineral tanah jarang asal Tiongkok dikabarkan menahan pengiriman ke Amerika Serikat sejak awal Agustus 2026, menunjukkan kembali ketergantungan strategis AS pada pasokan dari Beijing. Langkah ini muncul di tengah ketegangan yang memanas pasca-penjatuhan sanksi oleh Beijing terhadap Responsible Business Alliance (RBA), lembaga yang mengawasi praktik rantai pasok global. Pemasok Tiongkok khawatir akan terkena konsekuensi jika melanggar aturan ekspor yang ditetapkan pemerintahnya, terutama ketika harus memenuhi standar audit rantai pasok dari Responsible Minerals Initiative (RMI) yang terkait dengan RBA.

Situasi ini terjadi hanya beberapa pekan sebelum rencana pertemuan puncak antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Washington pada 24 September. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pemasok Tiongkok juga menolak pengiriman demi menghindari keterlibatan dalam konflik geopolitik, bahkan dalam kasus tertentu menolak pengiriman karena khawatir barang tersebut akan digunakan oleh pihak yang masuk daftar larangan. Hal ini menambah tekanan pada pasokan mineral strategis global yang masih terbatas, meskipun ekspor tanah jarang mulai pulih setelah pembatasan pada April 2025.

Harga sejumlah bahan baku seperti yttrium, indium fosfida, dan tungsten kini mendekati level tertinggi sepanjang masa. Beberapa perusahaan di AS bahkan dilaporkan telah menunggu lebih dari enam bulan untuk mendapatkan izin ekspor. Ahli strategi geopolitik dari Rhodium Group, Reva Goujon, menilai bahwa kontrol ekspor mineral tanah jarang menjadi alat utama Beijing untuk menekan kebijakan perdagangan dan industri AS, khususnya lembaga Biro Industri dan Keamanan (BIS) di bawah Kementerian Perdagangan.

Meskipun Beijing menyatakan komitmen menjaga kelancaran rantai pasok global, data bea cukai menunjukkan volume ekspor yttrium ke AS masih sekitar separuh tingkat puncak pada 2024. Namun, pada Juli 2026, Tiongkok kembali mengirim 27 ton yttrium ke AS—salah satu jumlah terbesar sejak Januari 2025—setelah sebelumnya tidak ada pengiriman selama dua bulan. Peningkatan ini diperkirakan sebagai respons diplomatis menjelang pertemuan puncak, dengan ekspektasi bahwa izin ekspor akan lebih mudah diperoleh dalam waktu dekat.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya