Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau Bukan Gunung Api Baru
Daratan baru seluas 32,8 hektare di sekitar Anak Krakatau terbentuk akibat penumpukan material vulkanik, bukan hasil aktivitas erupsi mandiri.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 17.34 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Berdasarkan analisis ahli, munculnya daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau bukan tanda lahirnya gunung api baru, melainkan hasil akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava yang mengendap di dasar laut. Luas area baru ini mencapai 32,8 hektare, terdeteksi melalui pemantauan citra satelit pasca-serangkaian erupsi berkepanjangan. Proses pembentukan ini terjadi secara bertahap, seiring meningkatnya aktivitas vulkanik yang menghasilkan material erupsi yang kemudian terbawa arus laut dan mengendap di wilayah dengan kedalaman dangkal.
Faktor geologis dan oseanografis turut memengaruhi proses pembentukan daratan ini. Dasar laut di cekungan kaldera bekas letusan Krakatau tahun 1883 relatif dangkal, sehingga mempercepat penumpukan material. Selain itu, arus laut dan gelombang di Selat Sunda membawa material ringan ke area yang lebih tenang, memungkinkan pengendapan permanen. Namun, kelangsungan daratan ini tidak menentu; jika aktivitas erupsi terus berlanjut, material baru akan menambah ketahanan struktur. Sebaliknya, jika erupsi mereda, abrasi dan gelombang dapat mengikis endapan yang belum padat.
Ahli kebencanaan menegaskan bahwa daratan ini belum memenuhi tiga kriteria utama gunung api: adanya saluran magma mandiri yang terpisah dari kawah induk, aktivitas erupsi magmatik sendiri, serta perubahan struktural geologis seperti deformasi tanah atau gempa lokal yang terpusat. Tanpa ketiga unsur tersebut, tidak dapat dikategorikan sebagai gunung api baru. Fenomena ini justru merupakan proses alamiah yang umum terjadi di kawasan gunung api aktif, bukan indikasi perubahan geologis besar.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing oleh isu spekulatif yang beredar luas di media sosial. Masyarakat diminta tetap tenang, menghindari area rawan, dan mematuhi batas aman yang ditetapkan, yaitu radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Perluasan daratan terjadi di sektor barat laut, barat, dan barat daya, diduga akibat keluarnya magma encer melalui rekahan memanjang dari barat laut ke tenggara, yang kemudian membentuk gumuk darat di lokasi terpisah.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Vaksindo Ekspor Vaksin Unggas ke Afrika, Capai Rp1,9 Miliar
PT Vaksindo Satwa Nusantara sukses mengekspor vaksin hewan senilai Rp1,9 miliar ke empat negara Afrika sebagai langkah ekspansi pasar pertama di benua tersebut.
24 September 2026

Anggaran Kemenhub 2027 Rp32,9 Triliun, Laut Terbesar
Ditjen Perhubungan Laut menjadi penerima anggaran terbesar di Kemenhub dengan Rp10,49 triliun, menyesuaikan prioritas peningkatan keselamatan dan konektivitas maritim.
24 September 2026

Anggaran 2027 Basarnas Belum Cukup, Kekurangan Rp2,29 Triliun
Basarnas mengalokasikan anggaran Rp1,56 triliun untuk 2027, masih kurang Rp2,29 triliun dari kebutuhan sebenarnya, terutama untuk sarana dan prasarana pencarian dan pertolongan.
24 September 2026

Pemerintah Masih Rancang Desain Program Rekening Gratis
Pemerintah belum menentukan anggaran detail dan desain pelaksanaan program pembukaan rekening gratis dengan saldo awal Rp50 ribu untuk masyarakat.
24 September 2026
Berita Lainnya

Presiden Bentuk Badan Nasional untuk Pencegahan Karhutla dari Akar Rumput
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Presiden Dorong Riset Optimalisasi Lahan Gambut
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Mabes Polri Ambil Alih Penyelidikan Tenggelamnya Kapal Virgo
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Pemprov NTB dan DPR RI Perkuat Perlindungan PMI dari Hulu ke Hilir
Kamis, 24 September 2026, 23.29 WITA

Penyusunan UU Reforma Agraria Dilakukan dengan Pertimbangan Mendalam
Kamis, 24 September 2026, 23.28 WITA

Penularan HIV: Fakta Ilmiah di Balik Mitos yang Berkembang
Kamis, 24 September 2026, 23.22 WITA

Mobil Penumpang Kapal Pesiar Dipenuhi Anak Laba-Laba di Galveston
Kamis, 24 September 2026, 23.15 WITA

Gen Z AS Dorong Masuknya Mobil Listrik China
Kamis, 24 September 2026, 23.13 WITA

