Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau Bukan Gunung Api Baru

Daratan baru seluas 32,8 hektare di sekitar Anak Krakatau terbentuk akibat penumpukan material vulkanik, bukan hasil aktivitas erupsi mandiri.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 17.34 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 9x dibuka
Daratan Baru di Sekitar Anak Krakatau Bukan Gunung Api Baru📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Berdasarkan analisis ahli, munculnya daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau bukan tanda lahirnya gunung api baru, melainkan hasil akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava yang mengendap di dasar laut. Luas area baru ini mencapai 32,8 hektare, terdeteksi melalui pemantauan citra satelit pasca-serangkaian erupsi berkepanjangan. Proses pembentukan ini terjadi secara bertahap, seiring meningkatnya aktivitas vulkanik yang menghasilkan material erupsi yang kemudian terbawa arus laut dan mengendap di wilayah dengan kedalaman dangkal.

Faktor geologis dan oseanografis turut memengaruhi proses pembentukan daratan ini. Dasar laut di cekungan kaldera bekas letusan Krakatau tahun 1883 relatif dangkal, sehingga mempercepat penumpukan material. Selain itu, arus laut dan gelombang di Selat Sunda membawa material ringan ke area yang lebih tenang, memungkinkan pengendapan permanen. Namun, kelangsungan daratan ini tidak menentu; jika aktivitas erupsi terus berlanjut, material baru akan menambah ketahanan struktur. Sebaliknya, jika erupsi mereda, abrasi dan gelombang dapat mengikis endapan yang belum padat.

Ahli kebencanaan menegaskan bahwa daratan ini belum memenuhi tiga kriteria utama gunung api: adanya saluran magma mandiri yang terpisah dari kawah induk, aktivitas erupsi magmatik sendiri, serta perubahan struktural geologis seperti deformasi tanah atau gempa lokal yang terpusat. Tanpa ketiga unsur tersebut, tidak dapat dikategorikan sebagai gunung api baru. Fenomena ini justru merupakan proses alamiah yang umum terjadi di kawasan gunung api aktif, bukan indikasi perubahan geologis besar.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing oleh isu spekulatif yang beredar luas di media sosial. Masyarakat diminta tetap tenang, menghindari area rawan, dan mematuhi batas aman yang ditetapkan, yaitu radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Perluasan daratan terjadi di sektor barat laut, barat, dan barat daya, diduga akibat keluarnya magma encer melalui rekahan memanjang dari barat laut ke tenggara, yang kemudian membentuk gumuk darat di lokasi terpisah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya