Jumat, 25 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Daratan Baru Muncul Akibat Erupsi Anak Krakatau

Dua daratan baru terbentuk di sekitar Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi berkepanjangan, hasil akumulasi material vulkanik yang menumpuk di dasar laut dangkal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 15.20 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 7x dibuka
Daratan Baru Muncul Akibat Erupsi Anak Krakatau📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada awal September 2026, aktivitas vulkanik intensif di Gunung Anak Krakatau menghasilkan munculnya dua wilayah darat baru di sekitar perairan Selat Sunda. Lokasi terdeteksi berada di barat laut sejauh 760 meter dan tenggara sejauh 495 meter dari pesisir utama gunung api, membentuk garis lurus yang menghubungkan kawasan erupsi utama. Temuan ini dikonfirmasi melalui pengamatan langsung oleh pelaut dan relawan, serta analisis citra satelit Sentinel hingga tanggal 23 September 2026.

Pembentukan daratan tersebut dikaitkan erat dengan erupsi berdurasi 25 jam pada 4 hingga 6 September, yang memicu aliran lava deras dan penambahan luas tubuh gunung hingga mencapai 32,8 hektare. Meski muncul secara fisik, Badan Geologi belum memastikan apakah kedua wilayah tersebut merupakan pusat erupsi baru atau sekadar akumulasi material sekunder. Tim masih menunggu hasil kajian lebih mendalam untuk menentukan status dan potensi perkembangan jangka panjangnya.

Sejak status aktivitas gunung turun dari Siaga (Level III) ke Waspada (Level II) pada 21 September, otoritas telah menetapkan zona larangan akses di dalam radius 2 kilometer dari kawah utama dan 1 kilometer dari masing-masing daratan baru. Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang, menghindari penyebaran informasi hoaks terkait ancaman tsunami, serta mematuhi arahan dari BPBD setempat demi menjaga keselamatan.

Ahli mitigasi bencana dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa daratan baru bukan merupakan gunung api baru atau "Cucu Krakatau", melainkan hasil endapan material vulkanik. Faktor geologis, seperti kedalaman dasar laut yang dangkal di cekungan bekas letusan Krakatau 1883, mempercepat penumpukan abu, batuan, dan lava. Arus dan gelombang laut Selat Sunda juga berperan dalam mengalihkan material ke area yang lebih tenang, sehingga mengendap secara permanen.

Proses pembentukan ini berlangsung secara bertahap seiring aktivitas erupsi yang meningkat. Jika erupsi terus berlanjut, pasokan material baru akan memperbesar daratan dan memperkokoh strukturnya karena dilapisi lava cair yang membeku. Namun, keberadaan wilayah tersebut tetap rentan terhadap erosi dan perubahan dinamika laut, sehingga perkembangannya tidak bisa dipastikan secara permanen.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya