Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo dalam Survei, Dukungan Meningkat di Sultra

Survei terbaru menunjukkan Dedi Mulyadi meraih 42 persen dukungan, jauh unggul dari Prabowo yang hanya 20 persen, menggambarkan pola preferensi pemilih di Sulawesi Tenggara.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 4 September 2026, 19.20 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo dalam Survei, Dukungan Meningkat di Sultra
Foto: Foto: Bahdin

Kendari, ıNarasikita - Hasil survei terbaru mengungkapkan dominasi Dedi Mulyadi dalam preferensi pemilih di Sulawesi Tenggara, dengan angka dukungan mencapai 42 persen. Angka ini jauh melampaui capaian Prabowo yang hanya meraih 20 persen, menandai perbedaan signifikan dalam arus dukungan di wilayah tersebut. Peneliti menyebut tren ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari keberlanjutan kehadiran dan keterlibatan politik aktif di tingkat lokal.

Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa keberhasilan Dedi Mulyadi didukung oleh strategi komunikasi yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan muda, petani, dan pelaku usaha mikro. Kebijakan yang dianggap pro-rakyat dan aksesibilitas yang tinggi menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan publik. Sebaliknya, meski Prabowo memiliki basis dukungan kuat di wilayah lain, capaian 20 persen di Sultra menunjukkan keterbatasan penetrasi di daerah tersebut.

Peneliti menekankan bahwa pola dukungan ini mencerminkan preferensi lokal yang lebih menekankan kinerja konkret dibandingkan simbolisme politik. Dukungan terhadap Dedi Mulyadi didorong oleh rekam jejak konsistensi dalam kebijakan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa pemilih di Sultra lebih responsif terhadap hasil nyata daripada narasi politik semata.

Dengan angka yang jauh berbeda, survei ini menggambarkan dinamika politik yang kini berkembang di wilayah Sulawesi Tenggara. Pemilih tidak lagi mengikuti arus nasional secara buta, melainkan menilai calon berdasarkan kinerja dan keterdekatannya dengan kebutuhan lokal. Pola ini diperkirakan akan menjadi acuan penting dalam menyusun strategi kampanye di masa depan, khususnya di daerah dengan karakteristik sosial dan ekonomi yang unik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya