Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Defisit Transaksi Berjalan Capai 3,3%, Waspada Tekanan Eksternal

Defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai 3,3% pada kuartal II 2026, menunjukkan tekanan pada keseimbangan eksternal yang perlu diimbangi dengan arus modal masuk yang kuat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 22.42 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Defisit Transaksi Berjalan Capai 3,3%, Waspada Tekanan Eksternal
Foto: Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal kedua tahun 2026 mencapai angka 3,3%, menandakan peningkatan tekanan terhadap keseimbangan eksternal ekonomi nasional. Angka ini muncul di tengah penurunan surplus neraca perdagangan barang dan kondisi global yang tetap tidak menentu. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dapat memperbesar risiko terhadap stabilitas nilai tukar rupiah jika tidak dikelola dengan baik.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menekankan bahwa dua komponen utama yang memengaruhi perkembangan transaksi berjalan adalah defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer. Peningkatan pembayaran dividen serta repatriasi pendapatan ke luar negeri menjadi salah satu penyebab utama defisit pendapatan primer yang terus berlanjut dalam beberapa periode terakhir. Hal ini membuat surplus perdagangan barang yang semakin menyusut tidak cukup menutupi ketimpangan tersebut.

Menurut Andry, pelebaran defisit transaksi berjalan tidak bisa dibiarkan tanpa penyesuaian dari sisi lain. Ia menyoroti pentingnya terciptanya surplus signifikan pada neraca finansial, khususnya melalui arus investasi langsung dan portofolio di pasar modal. Investasi asing yang masuk ke saham maupun obligasi menjadi penopang utama dalam menjaga keseimbangan eksternal dan mencegah depresiasi nilai tukar rupiah.

Tanpa aliran modal masuk yang cukup, defisit transaksi berjalan berpotensi memperbesar ketergantungan terhadap cadangan devisa dan memperlemah ketahanan ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, kebijakan yang mendorong iklim investasi dan memperkuat daya saing ekspor menjadi kunci untuk menstabilkan posisi eksternal Indonesia dalam jangka menengah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya