Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Delapan Bandara Ditutup Akibat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Delapan bandara di Jawa dan Lampung ditutup sementara akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, berlangsung hingga sore hari.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 15.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Delapan Bandara Ditutup Akibat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sebanyak delapan bandara di wilayah Jawa dan Lampung mengalami penutupan sementara pada Minggu (6/9) akibat penumpukan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Penutupan dilakukan secara bertahap mulai pagi hingga siang hari, dengan durasi berbeda-beda tergantung lokasi dan tingkat dampak. Operasional bandara dikendalikan berdasarkan data pengamatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bandara Soekarno-Hatta (CGK) menjadi yang pertama ditutup, mulai pukul 02.08 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) mengikuti dengan penutupan dari pukul 07.20 hingga 18.00 WIB. Sementara itu, Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) ditutup sejak pukul 04.18 hingga 14.00 WIB, namun kemungkinan diperpanjang karena abu vulkanik masih terdeteksi di atmosfer.

Lokasi lain yang terdampak termasuk Bandara Husein Sastranegara (BDO), Bandara Budiarto Curug (RTO), Bandara Pondok Cabe (PCB), Bandara Taufik Kiemas (TFY), dan Bandara Atung Bungsu (PXA). Penutupan masing-masing berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan, dengan rentang waktu dari mulai pukul 06.48 hingga 17.30 WIB. Pemantauan terus dilakukan untuk menilai kembali kelayakan penerbangan setiap jam.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan tiga alternatif bandara untuk menampung penerbangan yang terdampak. Tiga lokasi tersebut adalah Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat; Bandara Ahmad Yani di Semarang, Jawa Tengah; serta Bandar Udara Internasional Juanda di Surabaya, Jawa Timur. Langkah ini diambil untuk meminimalkan gangguan perjalanan udara secara keseluruhan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya