Demonstrasi Ricuh di Tirana, Rama Sebut Ada Perang Hibrida
Demonstrasi antipemerintah di Tirana berlanjut dengan kekerasan masif, menewaskan ratusan orang, sementara Perdana Menteri Edi Rama menyalahkan campur tangan asing dalam gelombang protes.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 21 Oktober 2026, 23.03 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 59x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Aksi protes di ibu kota Albania, Tirana, kembali memanas setelah sepekan berlangsung dalam skala besar dan melibatkan ribuan warga. Aksi yang awalnya dipicu oleh ketidakpuasan terhadap sistem pendidikan tinggi dan dugaan korupsi pemerintah kini menyebar ke berbagai sektor masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan pelajar. Kekerasan terjadi secara berulang, dengan demonstran melemparkan batu, bom molotov, dan kembang api, sementara aparat mengandalkan meriam air, gas air mata, dan peluru karet untuk membubarkan massa.
Sebanyak 300 orang mengalami luka-luka dalam rentang waktu tersebut, dengan lebih dari separuh korban berasal dari kepolisian. Beberapa gedung pemerintah, termasuk kantor Kementerian Pendidikan, mengalami kerusakan serius akibat pembakaran dan pelemparan benda tajam. Sejumlah toko di kawasan pusat kota juga dirusak, menunjukkan dampak luas dari kerusuhan yang berlangsung dalam waktu terus-menerus.
Perdana Menteri Edi Rama menyatakan bahwa gejolak sosial yang terjadi bukan hanya hasil dari ketidakpuasan masyarakat, tetapi bagian dari strategi perang hibrida yang dipimpin oleh negara asing. Ia menuding Rusia dan Iran sebagai aktor utama dalam penyebaran informasi menyesatkan di media digital. Menurut Rama, aksi demonstrasi yang kian brutal memanfaatkan isu nyata seperti kenaikan biaya hidup, keterbatasan perumahan terjangkau, dan ketidakpastian masa depan, yang kemudian dimanipulasi untuk menyerang stabilitas pemerintahan.
Dalam pernyataan resmi, Rama juga mengungkapkan rencana kebijakan baru, termasuk pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dan penyesuaian batas usia pertanggungjawaban pidana. Di tengah tekanan politik, sejumlah dosen universitas menggelar aksi solidaritas, membawa spanduk yang menuntut penghentian kekerasan terhadap mahasiswa dan mendesak Rama mundur dari jabatannya.
Aksi ini bermula dari kontroversi pembangunan resor yang dikaitkan dengan keluarga mantan Presiden AS Donald Trump, namun kini berkembang menjadi gerakan nasional menentang korupsi dan ketidakadilan sistemik. Tuntutan untuk pergantian kepemimpinan pemerintah terus menguat, seiring dengan meningkatnya kekecewaan terhadap kinerja pemerintah dalam menangani isu-isu sosial dan ekonomi.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Operasi gabungan di Jayapura menyita 10 kilogram ganja, senjata api, dan senjata tajam, serta menangkap 10 orang, termasuk warga negara Papua Nugini.
24 Oktober 2026

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat membatalkan putusan KPPU terhadap 97 penyelenggara pinjaman daring karena dinilai melanggar doktrin tindakan negara dan tidak memenuhi kriteria pasar bersangkutan.
24 Oktober 2026

Presiden Korea Selatan Buka Pintu Debat Politik Lewat AI
Presiden Lee Jae Myung memicu kontroversi dengan mengacu pada respons AI Gemini untuk membela kehadiran kepala lembaga investigasi dalam rapat kabinet, memicu reaksi keras dari oposisi.
24 Oktober 2026

Perlu Kajian Mendalam Usulan Perubahan Definisi Korupsi
Menteri Koordinator Hukum menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap wacana perubahan definisi korupsi yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Panas atau Dingin, Apakah Suhu Kopi Pengaruhi Kesehatan?
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.49 WITA

