Dolar Rp6.550 di Tangan Habibie, Rahasia Kebijakan yang Mengguncang Krisis
Dalam waktu singkat, BJ Habibie berhasil menurunkan nilai tukar dolar dari Rp16.800 menjadi Rp6.550 lewat restrukturisasi perbankan, kebijakan moneter ketat, dan kontrol harga pokok.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pada masa krisis moneter 1998, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sempat meroket hingga Rp16.800. Namun dalam kurun waktu singkat, saat BJ Habibie menjabat presiden, angka itu turun drastis menjadi Rp6.550. Langkah tersebut menjadi salah satu pencapaian utama dalam masa kepemimpinannya, meski ia bukan ekonom dan berasal dari latar belakang teknokrat pesawat terbang. Kebijakan yang diambilnya tidak hanya menstabilkan mata uang, tetapi juga mengembalikan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional.
Salah satu langkah krusial adalah restrukturisasi sistem perbankan yang sempat lumpuh akibat kebijakan liberalisasi di era Orde Baru. Habibie menggabungkan empat bank milik negara menjadi satu entitas baru, Bank Mandiri, sekaligus memperkuat kemandirian Bank Indonesia. Ia juga menerbitkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 yang memisahkan BI dari pengaruh pemerintah, menjadikannya lembaga yang independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik—sebuah fondasi penting bagi kestabilan moneter jangka panjang.
Di sisi lain, ia menerapkan kebijakan moneter ketat dengan menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berbunga tinggi. Instrumen ini berhasil menarik dana dari masyarakat ke perbankan, mengurangi peredaran uang tunai, dan menurunkan suku bunga dari puncak 60% menjadi belasan persen dalam waktu relatif singkat. Kebijakan ini tidak hanya memperkuat likuiditas perbankan, tetapi juga memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi keuangan.
Untuk menjaga kestabilan harga pokok, Habibie mempertahankan subsidi listrik dan bahan bakar minyak, sehingga harga kebutuhan dasar tetap terjangkau di tengah tekanan ekonomi. Ia juga mengajak masyarakat berhemat melalui kebijakan tak lazim, seperti menyarankan puasa pada hari Senin dan Kamis, sebagai upaya menekan konsumsi saat krisis. Meski kontroversial, langkah tersebut mencerminkan pendekatan pragmatis yang menekankan disiplin ekonomi dan solidaritas sosial.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

EJIF 2026 Torehkan Rp2,4 Triliun dari 12 Komitmen Investasi
Forum Investasi Jawa Timur 2026 berhasil mencatat kesepakatan investasi senilai Rp2,4 triliun melalui 12 komitmen bisnis yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
4 Oktober 2026

Pengawasan WNA di Tangerang Diperketat Pasca Temuan Pelanggaran Izin
Kantor Imigrasi Tangerang tingkatkan pemantauan terhadap 6.000 WNA setelah 13 warga negara asing asal Tiongkok diamankan karena menyalahgunakan izin tinggal.
4 Oktober 2026

10 Emiten dengan Imbal Hasil Dividen Tertinggi di Pasar Modal
Sebanyak 10 emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun menawarkan imbal hasil dividen di atas 10%, dengan BSSR unggul di posisi teratas.
4 Oktober 2026

Harga Emas Turun, Ini Strategi Investasi untuk Pemula
Penurunan harga emas di berbagai pasar menawarkan kesempatan bagi pemula untuk mulai berinvestasi dengan strategi yang disiplin dan berbasis tujuan jangka panjang.
4 Oktober 2026
Berita Lainnya

Wabup Nagekeo Meninggal Usai Pantau Perbaikan Jalan Rusak
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.30 WITA

Ben Affleck Soroti Etika Penggunaan AI dalam Sinema
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.29 WITA

Kota Berbasis AI dan Nilai Lokal Hadir di Bali
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.29 WITA

Warga Badui Ajak Pemerintah Jaga Hutan untuk HUT Banten ke-26
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.29 WITA

Teh Jahe Hangat Bantu Legakan Perut Kembung Malam Hari
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.28 WITA

Manager Fox Ajukan Permohonan Putar Film di Istana
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.28 WITA

Marinir AS Ditahan Terkait Pembunuhan dan Pencurian di Okinawa
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.28 WITA

Hekente Wakatobi: Perempuan Jaga Budaya Bahari dengan Tradisi Menjaring Ikan
Minggu, 4 Oktober 2026, 21.28 WITA

