Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

10 Emiten dengan Imbal Hasil Dividen Tertinggi di Pasar Modal

Sebanyak 10 emiten berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun menawarkan imbal hasil dividen di atas 10%, dengan BSSR unggul di posisi teratas.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
10 Emiten dengan Imbal Hasil Dividen Tertinggi di Pasar Modal📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar modal Indonesia menunjukkan sejumlah emiten yang menawarkan imbal hasil dividen tinggi, menjadi pilihan bagi investor yang mencari pendapatan pasif dari saham. Dari 10 perusahaan tersebut, semua memiliki kapitalisasi pasar melebihi Rp10 triliun, dengan rata-rata imbal hasil tahunan mencapai 10% atau lebih. Data ini berdasarkan perhitungan akumulasi dividen per saham selama 12 bulan terakhir dibandingkan dengan harga saham terkini.

PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menjadi pemimpin dengan imbal hasil sebesar 18,6%, disusul PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang mencatatkan 16,3%. Kedua emiten ini berasal dari sektor pertambangan dan sumber daya alam. Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) juga masuk dalam daftar, masing-masing dengan imbal hasil 11,4% dan 11,0%, menunjukkan konsistensi pembagian dividen dari institusi keuangan besar.

Sementara itu, emiten sektor konsumsi seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menawarkan imbal hasil 11,3% dan 10,7% secara berurutan. Di sektor komoditas, PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), serta dua emiten batu bara, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), masing-masing mencatatkan imbal hasil 10,8%, 10,2%, dan 10,0%.

Perhitungan imbal hasil menggunakan rumus sederhana: total dividen tahunan per saham dibagi harga saham saat ini, lalu dikalikan 100%. Oleh karena itu, imbal hasil bisa meningkat jika harga saham turun, meskipun besaran dividen tetap. Sebaliknya, kenaikan harga saham bisa menurunkan persentase imbal hasil secara relatif. Ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya yield tidak selalu mencerminkan nilai saham secara keseluruhan.

Meskipun imbal hasil tinggi menarik, investor perlu berhati-hati. Angka tersebut bersifat historis dan tidak menjamin pembagian dividen serupa di masa depan. Faktor penting lain yang harus dipertimbangkan meliputi kinerja laba, arus kas, beban utang, rasio pembayaran dividen (payout ratio), serta konsistensi pembagian dividen dalam periode panjang. Imbal hasil dividen sebaiknya menjadi salah satu alat awal dalam menilai potensi saham, bukan satu-satunya penentu keputusan investasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya