Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Dua Badak Sumatra Hamil, Proyek Konservasi Bergerak Maju

Dua badak betina di Taman Nasional Way Kambas kini dalam masa kehamilan, menjadi terobosan penting dalam upaya pelestarian spesies yang terancam punah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 10 Oktober 2026, 09.16 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Dua Badak Sumatra Hamil, Proyek Konservasi Bergerak Maju📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dua ekor badak sumatra betina, Ratu dan Delilah, kini tengah menjalani masa kehamilan yang dipantau secara ketat oleh tim konservasi di Taman Nasional Way Kambas. Kondisi kesehatan keduanya dipastikan stabil, dengan usia kehamilan masing-masing mencapai 238 hari untuk Ratu dan 251 hari untuk Delilah per 3 Oktober 2026. Kedua induk ini menjadi bagian dari program pengembangbiakan yang dijalankan oleh Balai Taman Nasional Way Kambas bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI) melalui fasilitas Suaka Rhino Suaka (SRS).

Ratu, yang merupakan induk dari Delilah dan Andatu, kini mengandung anak keempatnya dari pejantan Andalas. Sementara itu, Delilah, yang merupakan anak dari Ratu dan Andalas, sedang membawa janin kedua dari pejantan Harapan. Kedua kelahiran ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat populasi badak sumatra secara genetik dan numerik, sejalan dengan target konservasi jangka panjang.

Pemantauan intensif dilakukan oleh tim medis, keeper, dan manajemen SRS untuk memastikan kelancaran proses kehamilan hingga persalinan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari peringatan Hari Badak Sedunia 2026, yang diselenggarakan di Taman Safari Indonesia Bogor. Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa kehamilan kedua badak ini merupakan bukti nyata atas efektivitas strategi konservasi terpadu, termasuk pemantauan reproduksi dan pengelolaan kesehatan individu.

Sejauh ini, program pengembangbiakan di SRS telah berhasil melahirkan lima ekor badak sumatra, termasuk Indra dan Anggi pada 2023, Sedah Mirah 2022, serta Delilah dan Andatu sebelumnya. Dengan masa kehamilan yang berlangsung sekitar 15–16 bulan dan masa penyapihan hingga dua tahun, setiap kelahiran baru menjadi langkah strategis dalam mempertahankan keberlangsungan spesies yang kini dikategorikan *Critically Endangered* oleh IUCN.

Ketua Pengurus YABI, Jansen Manansang, menegaskan komitmen bersama untuk terus memantau perkembangan kesehatan Ratu dan Delilah hingga proses kelahiran. Ia menyampaikan bahwa upaya ini bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga sebagai kontribusi global terhadap pelestarian keanekaragaman hayati. Dengan pendekatan semi-in-situ yang menggabungkan habitat alami dan intervensi medis terbatas, program ini menjadi model konservasi yang berkelanjutan dan berbasis ilmu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya