Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ekspor Beras ke Malaysia Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Indonesia resmi mengekspor beras premium ke Malaysia sebanyak 1.000 ton, menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan dan membuka peluang pasar hingga 200.000 ton.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 3 September 2026, 16.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ekspor Beras ke Malaysia Perkuat Kemandirian Pangan Nasional📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia secara resmi membuka jalur ekspor beras ke Malaysia dengan pengiriman perdana sebanyak 1.000 ton beras premium, yang disepakati melalui nota kesepahaman antar negara. Penandatanganan ini dilakukan pada momen peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, menandai tonggak penting dalam transformasi sektor pangan nasional. Kegiatan ekspor ini menjadi bukti nyata bahwa produksi beras dalam negeri telah mencapai level yang memungkinkan penyediaan stok domestik tetap terjaga, sekaligus memberi ruang bagi keterlibatan global yang terukur.

Peningkatan produksi beras Indonesia diproyeksikan mencapai 38,6 juta ton pada periode 2026/2027, naik dari 34 juta ton pada 2024/2025. Angka ini sesuai dengan proyeksi Food and Agriculture Organization (FAO) dan menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia, di belakang India, Tiongkok, dan Bangladesh. Yang membedakan, Indonesia merupakan satu-satunya negara besar dengan tren produksi yang terus meningkat, sementara produsen lain mengalami stagnasi atau penurunan.

Stok beras nasional saat ini berada pada level aman sekitar 5,2 juta ton, yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga Mei 2027. Pemerintah menegaskan bahwa ekspor tidak akan mengganggu ketersediaan pangan dalam negeri. Fokus tetap pada kecukupan stok, stabilitas harga, dan perlindungan terhadap konsumen, sambil memanfaatkan surplus produksi untuk memperluas akses pasar internasional.

Selain sektor pangan, pemerintah juga mempercepat transformasi energi dengan meluncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt Peak (GWp). Proyek ini telah dimulai dengan groundbreaking di 14 lokasi di enam provinsi, dengan fokus utama di Jembrana, Bali, pada 25 Agustus 2026. Program ini bukan hanya target, melainkan langkah nyata dalam membangun kemandirian energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Dengan potensi penghematan hingga Rp73,9 triliun per tahun, penurunan emisi karbon hingga 140,16 juta ton CO2, serta penciptaan sekitar 5,5 juta lapangan kerja, program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem energi surya yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Tujuan utamanya bukan sekadar transisi energi, tetapi memberikan manfaat nyata bagi rakyat dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di seluruh sektor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya