Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ekspor China Melonjak 25%, Tantangan Permintaan Dalam Negeri Tetap Menghantui

Ekspor China naik 25% secara tahunan pada Agustus 2026, didorong permintaan global terhadap produk teknologi tinggi, sementara domestik masih lesu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 8 September 2026, 15.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ekspor China Melonjak 25%, Tantangan Permintaan Dalam Negeri Tetap Menghantui
Foto: CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Ekspor China mencatat pertumbuhan spektakuler sebesar 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu pada bulan Agustus, menandai puncak kenaikan yang terus berlanjut setelah sebelumnya mencatatkan lonjakan 23,9%. Data dari otoritas bea cukai menunjukkan bahwa momentum ini didorong dominan oleh permintaan luar negeri terhadap produk berteknologi canggih, khususnya kendaraan listrik, sel surya, baterai lithium-ion, dan perangkat berbasis kecerdasan buatan. Kenaikan ini menguatkan posisi ekonomi Negeri Tirai Bambu di tengah perlambatan konsumsi domestik yang berkepanjangan.

Di sisi lain, impor juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 28,2% secara tahunan, sedikit di bawah perkiraan pasar yang memproyeksikan kenaikan 30%. Meskipun begitu, kenaikan impor tetap mencerminkan aktivitas ekonomi yang relatif stabil, meski belum mampu menyamai kecepatan ekspor. Kesenjangan antara ekspor yang kuat dan aktivitas dalam negeri yang stagnan semakin menekankan ketergantungan China terhadap pasar internasional untuk menyerap produksi industri.

Surplus perdagangan China mencapai US$119,09 miliar pada Agustus, meningkat dari US$112,5 miliar pada bulan sebelumnya. Dalam delapan bulan pertama tahun ini, surplus telah menembus US$805,51 miliar, mengarah pada proyeksi surplus tahunan di atas US$1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut. Khususnya, surplus dengan Amerika Serikat naik menjadi US$29,18 miliar dari posisi US$28 miliar sebelumnya. Meskipun terjadi ketegangan perdagangan, gencatan senjata antara Beijing dan Washington tetap berlaku, dengan kedua belah pihak sedang membahas potensi pemotongan tarif timbal balik atas barang bernilai US$30 miliar.

Di tengah keberhasilan ekspor, sektor domestik menghadapi tantangan serius. Produksi industri dan penjualan ritel melambat pada kuartal kedua, sementara pasar properti masih dalam fase penurunan berkepanjangan. Pemerintah telah menyerukan upaya stabilisasi permintaan eksternal dan memperluas kolaborasi perdagangan internasional. Sebagai respons, pemerintah meluncurkan paket dukungan fiskal senilai 800 miliar yuan (Rp2.110 triliun) untuk memperkuat investasi infrastruktur.

Analisis dari Guotai Haitong Securities menyebut bahwa kinerja ekspor yang kuat sementara waktu mengurangi tekanan bagi Beijing untuk segera melakukan pelonggaran moneter. Meskipun dukungan kebijakan lebih lanjut tetap mungkin, kondisi eksternal yang stabil dan kebijakan fiskal yang terarah membuat pelonggaran suku bunga belum menjadi prioritas mendesak. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberlanjutan pertumbuhan ekonomi China masih bergantung pada daya saing global, sementara pemulihan dalam negeri tetap membutuhkan waktu dan kebijakan yang lebih dalam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya