Rabu, 9 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ekspor RI Didominasi Produk Olahan, Capai 82 Persen di 2026

Porsi ekspor nonmigas Indonesia yang berasal dari industri pengolahan mencapai 82 persen pada 2026, menunjukkan transformasi signifikan dari komoditas mentah ke produk bernilai tambah tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 7 September 2026, 19.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ekspor RI Didominasi Produk Olahan, Capai 82 Persen di 2026
Foto: CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kinerja ekspor Indonesia pada tahun 2026 menunjukkan perubahan mendasar dalam struktur komoditas yang diekspor, dengan produk hasil industri pengolahan kini mendominasi sebesar 82 persen dari total ekspor nonmigas. Angka ini mencatat kenaikan dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 79 persen, menandakan perkembangan pesat dalam kapasitas industri dalam negeri. Peningkatan signifikan ini menjadi bukti nyata dari upaya hilirisasi yang telah dilakukan secara konsisten oleh pemerintah dan sektor swasta dalam dekade terakhir.

Transformasi ini jauh berbeda dibandingkan kondisi 15 tahun lalu, ketika produk olahan hanya menyumbang sekitar 30 persen dari total ekspor. Kini, sektor industri pengolahan telah mampu menggeser dominasi komoditas mentah, terutama dalam sektor kelapa sawit dan baja. Produk turunan sawit seperti minyak goreng, biodiesel, dan berbagai bahan kimia kini menjadi andalan ekspor, bukan hanya crude palm oil (CPO) saja. Di sektor baja, Indonesia kini tidak hanya mengekspor produk setengah jadi, tetapi juga produk jadi seperti baja struktural dan pipa baja yang dipakai dalam proyek infrastruktur di Amerika Serikat dan Kanada.

Peningkatan nilai tambah ini menjadi kunci utama dalam memperkuat daya saing ekspor Indonesia di pasar global. Menurut pernyataan resmi dari Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, transformasi tersebut menunjukkan kemampuan industri nasional dalam memenuhi standar internasional dan memperluas jangkauan pasar. Pemerintah melihat peluang besar untuk pengembangan produk berbasis bioenergi, yang dinilai memiliki potensi ekspor tinggi dan berkelanjutan di masa depan.

Di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, ekspor Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan positif, dengan proyeksi kenaikan sebesar 4,43 persen pada 2026. Neraca perdagangan pada periode Januari-Juli tahun yang sama mencatat surplus sekitar US$3 miliar, menunjukkan keseimbangan yang stabil dalam aktivitas perdagangan. Lima negara utama tujuan ekspor—China, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Malaysia—tetap menjadi pasar strategis yang perlu dipertahankan demi menjaga keseimbangan ekonomi nasional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya