Sabtu, 19 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Emosi dan Adaptasi Kunci Bertahan di Era AI

Aktor dan aktris menekankan empati serta kemampuan beradaptasi sebagai modal utama menghadapi kehadiran AI dalam industri film.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 19 September 2026, 15.48 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 5x dibuka
Emosi dan Adaptasi Kunci Bertahan di Era AI📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Di tengah percepatan teknologi kecerdasan buatan, para pelaku perfilman di Tanah Air menilai bahwa empati tetap menjadi keunggulan tak tergantikan dari manusia. Morgan Oey menegaskan bahwa kemampuan merasakan dan memahami perasaan karakter menjadi fondasi penting dalam menjalankan peran, yang sulit direplikasi oleh sistem digital. Ia menyampaikan bahwa empati bukan sekadar keterampilan, melainkan kekuatan esensial yang menjadi ciri khas aktor manusia dalam menghadapi dinamika cerita yang kompleks.

Ario Bayu menambahkan bahwa meski AI mampu meniru perilaku dan ekspresi, pertanyaan besar muncul tentang kemampuan mesin untuk memahami moralitas dan pilihan sulit dalam narasi. Ia menyebut contoh sistem utiliter—di mana satu nyawa harus dikorbankan demi menyelamatkan banyak—yang menuntut pertimbangan emosional dan etis yang hanya dimiliki manusia. Baginya, kunci utama adalah tetap menjaga kehadiran manusia dalam karya kreatif, meski teknologi semakin canggih.

Nirina Zubir memandang realitas penggunaan AI sebagai fenomena yang tak bisa dihindari, namun tetap menekankan bahwa produksi film berdurasi panjang masih membutuhkan keterlibatan aktor asli. Ia menyatakan bahwa biaya dan kualitas hasil tetap menjadi pertimbangan, terutama ketika AI belum mampu menggantikan kehadiran emosional dan improvisasi spontan yang muncul dari interaksi manusia. Menurutnya, keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan masih menjadi tantangan utama.

Semua tokoh sepakat bahwa masa depan industri film bukan soal menggantikan manusia dengan mesin, melainkan bagaimana manusia mampu beradaptasi dengan teknologi. Kemampuan berubah, belajar, dan memanfaatkan AI sebagai alat bantu—bukan pengganti—dinilai sebagai kunci kelangsungan kreativitas. Dalam situasi di mana evolusi teknologi tak bisa dibendung, yang tersisa adalah kapasitas manusia untuk tetap relevan dan bermakna.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya