Kamis, 1 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Fenomena Langit Oktober 2026: Saturnus Hingga Meteor Orionid

Oktober 2026 menawarkan deretan fenomena langit menakjubkan, mulai dari oposisi Saturnus hingga hujan meteor Orionid, yang dapat disaksikan dengan mata telanjang atau alat bantu.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 1 Oktober 2026, 09.06 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Fenomena Langit Oktober 2026: Saturnus Hingga Meteor Orionid📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada 4 Oktober 2026, planet Saturnus akan mengalami oposisi, posisi di mana Bumi berada tepat di antara Matahari dan Saturnus. Dalam kondisi ini, planet bercincin tersebut berada pada jarak terdekat dengan Bumi dan dipancarkan cahaya penuh oleh Matahari, sehingga tampak lebih terang dari biasanya. Fenomena ini memungkinkan pengamat melihat cincinnya dan beberapa bulannya utama menggunakan teleskop atau kamera tele, sementara dengan mata telanang, Saturnus terlihat seperti bintang bercahaya terang di langit malam.

Selama periode 6 hingga 10 Oktober, langit akan disulap oleh hujan meteor Draconid. Meteor ini berasal dari sisa debu komet 21P Giacobini-Zinner, yang menghasilkan sekitar 10 meteor per jam. Waktu optimal untuk menyaksikannya adalah pada malam sebelum Bulan Baru, terutama pada 7 Oktober, ketika langit benar-benar gelap tanpa gangguan cahaya bulan. Pengamat disarankan untuk memilih lokasi terbuka, jauh dari polusi cahaya perkotaan, untuk mendapatkan pengalaman terbaik.

Pada 10 Oktober, Bulan Baru akan terjadi, menandai fase tanpa cahaya bulan di langit malam. Peristiwa ini menjadi momen ideal bagi para pengamat bintang untuk meneliti objek langit redup seperti galaksi dan gugusan bintang yang biasanya sulit terlihat karena gangguan cahaya bulan. Kondisi gelap total ini memungkinkan pengamatan astronomi yang lebih mendalam dan akurat.

Planet Merkurius akan mencapai elongasi timur maksimal pada 12 Oktober, dengan sudut 19,6 derajat dari Matahari. Ini merupakan momen terbaik untuk mengamati Merkurius, yang berada pada ketinggian tertinggi di cakrawala barat setelah Matahari terbenam. Selain itu, pada 21–22 Oktober, masyarakat akan disuguhi hujan meteor Orionid, yang berasal dari debu komet Halley. Fenomena ini berlangsung dari 2 Oktober hingga 7 November, dengan puncak aktivitas mencapai rata-rata 20 meteor per jam. Meski cahaya Bulan sabit yang membesar pada malam itu mengurangi visibilitas, langit akan kembali gelap setelah Bulan terbenam sekitar tengah malam.

Pada 26 Oktober, Bulan akan mencapai fase purnama. Dalam posisi ini, Bulan berada di sisi berlawanan Bumi dari Matahari, sehingga seluruh permukaannya terang benderang. Fenomena ini kerap dikenal dengan sebutan Bulan Pemburu oleh masyarakat adat Amerika, karena tradisi berburu yang dilakukan saat purnama ini. Nama lain yang sering digunakan termasuk Bulan Darah dan Bulan Sanguin, menggambarkan cahaya merah kecoklatan yang kadang muncul saat Bulan berada di horizon.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya