Film *Beautiful Pain* Angkat Kekerasan dalam Relasi, Tapi Cerita Tak Menyentuh Akar
Film *Beautiful Pain* menyampaikan pesan pemberdayaan perempuan melalui narasi yang menggambarkan perjuangan seorang istri menghadapi kekerasan, namun plot dan dramaturgi yang datar mengurangi kedalaman pesan yang ingin disampaikan.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 23 Oktober 2026, 21.15 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 21x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Film *Beautiful Pain* hadir sebagai karya kolaborasi antara Nikita Mirzani, Hanung Bramantyo, dan Titien Wattimena yang mengusung misi kuat: mengangkat pengalaman perempuan dalam menghadapi pelecehan, kekerasan dalam rumah tangga, dan dominasi patriarki. Dalam durasi 1 jam 39 menit, narasi berfokus pada karakter Niken, yang diperankan Raihaanun, seorang perempuan yang terjebak dalam relasi rumah tangga bermasalah dan menghadapi tekanan di lingkungan kerja. Cerita ini dirancang sebagai refleksi dari dinamika kehidupan publik yang sering kali melibatkan tokoh bernama Nikita Mirzani, namun pihak produksi berupaya menjauhkan karya dari bayang-bayang personalitasnya demi menegaskan pesan universal.
Namun, meski upaya pemisahan nama terlihat jelas, film tetap mengandalkan daya tarik dari nama besar Nikita Mirzani sebagai daya pikat pasar. Kehadirannya dalam narasi—meski tidak secara eksplisit disebut—terasa kuat dalam bentuk simbolisme dan konteks yang terbaca oleh penonton yang mengikuti perkembangan kariernya. Dalam konteks ini, keberhasilan film dalam menarik perhatian publik justru menjadi tantangan bagi kualitas kreatif, karena karya ini cenderung berjalan di atas narasi yang bersifat eksposisi daripada eksplorasi mendalam. Konflik utama yang diangkat—kekerasan suami, perselingkuhan, pelecehan di tempat kerja—dibawakan secara terbuka, namun tanpa kedalaman psikologis yang memadai.
Karakter-karakter pendukung, seperti Dirga (Baim Wong), Rendy (Tarra Budiman), dan Rahmania (Jajang C Noer), tidak dikembangkan secara mendalam. Dirga, sebagai sosok suami yang berpotensi menjadi representasi kekerasan tersembunyi, justru digambarkan secara klise—sebagai pria egois yang sering mengulang klaim nafkah sebagai alasan perbuatannya. Ia juga diberi latar sebagai pecandu, yang secara naratif menjadi pembenaran atas tindakan kekerasan, padahal hal ini justru melemahkan pesan anti-kekerasan. Sementara itu, hanya Jajang C Noer yang berhasil menyampaikan pesan kuat melalui peran ibunda yang menjadi simbol dari patriarki perempuan—fenomena yang justru paling mengancam perjuangan perempuan dalam sistem yang tak adil.
Sutradara debutan Dmaz Brodjonegoro menunjukkan keterbatasan dalam menata dramaturgi visual dan naratif. Komposisi warna dan tone film terlihat estetis, namun emosi yang dihasilkan terasa dangkal, kecuali dalam adegan yang menampilkan Raihaanun, Siti Fauziah, atau Jajang C Noer. Transisi antara masa kini dan flashback tidak dibedakan secara jelas, serta muncul kekeliruan logika, seperti penggunaan antibiotik untuk gejala asam lambung dan menstruasi. Meski begitu, penampilan Raihaanun dan Siti Fauziah memberi warna kuat, dengan akting yang penuh kehadiran dan dinamika yang menyokong perkembangan karakter utama.
Secara keseluruhan, *Beautiful Pain* berhasil menyampaikan isu penting tentang perjuangan perempuan dalam lingkungan yang tidak mendukung. Namun, keberhasilan ini terbatas pada level narasi yang bersifat umum dan tidak menembus akar sistemik dari masalah yang diangkat. Jika tujuannya adalah menciptakan kesadaran kolektif, maka film ini masih jauh dari ideal. Sebagai karya yang berambisi menyentuh perasaan dan mengubah persepsi, *Beautiful Pain* gagal menembus kedalaman yang dibutuhkan—hanya mampu berdiri sebagai cerita yang mengenang, bukan menggugah.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Operasi Narkoba Jayapura Gagalkan Peredaran Ganja dan Amankan Senjata Ilegal
Operasi gabungan di Jayapura menyita 10 kilogram ganja, senjata api, dan senjata tajam, serta menangkap 10 orang, termasuk warga negara Papua Nugini.
24 Oktober 2026

Pengadilan Niaga Batalkan Sanksi KPPU ke 97 Pinjol
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat membatalkan putusan KPPU terhadap 97 penyelenggara pinjaman daring karena dinilai melanggar doktrin tindakan negara dan tidak memenuhi kriteria pasar bersangkutan.
24 Oktober 2026

Presiden Korea Selatan Buka Pintu Debat Politik Lewat AI
Presiden Lee Jae Myung memicu kontroversi dengan mengacu pada respons AI Gemini untuk membela kehadiran kepala lembaga investigasi dalam rapat kabinet, memicu reaksi keras dari oposisi.
24 Oktober 2026

Perlu Kajian Mendalam Usulan Perubahan Definisi Korupsi
Menteri Koordinator Hukum menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap wacana perubahan definisi korupsi yang disampaikan Dewan Ekonomi Nasional.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Pezeshkian dan Putin Bahas Kerja Sama Ekonomi dan Geopolitik di Moskow
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.55 WITA

Pemerintah Bangun 66 Hunian Tetap untuk Korban Bencana di Lhokseumawe
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.54 WITA

Festival Jajanan Bango 2026 Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

AsetKu Perkuat Literasi Keuangan Digital di Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Nex Carlos Jajal Inovasi Kuliner Lokal di FJB 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Ekspor Kecap Indonesia Tembus 18,81 Juta Dolar AS hingga Agustus
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Produk UMKM Ramah Lingkungan Siap Eksplorasi Pasar Global
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.53 WITA

Panas atau Dingin, Apakah Suhu Kopi Pengaruhi Kesehatan?
Sabtu, 24 Oktober 2026, 17.49 WITA

